Menilik Perjalanan Protestan melalui Gereja Blenduk

Mungkin bagi sebagian orang yang berkunjung ke Semarang tak akan melewatkan untuk sekedar berkunjung ke Kawasan Kota Lama. Kota Lama yang menjadi salah satu ikon Semarang memikat banyak pelancong untuk sekedar duduk atau berjalan sepanjang jalan Kota Lama. tak terkecuali Prodi Studi Agama-Agama yang berkesempatan untuk dapat mengunjungi Kota Lama dalam kunjungan studi mata kuliah Community Development (PKL).

Bangunan kuno yang tetap berdiri megah di sepanjang jalan Kota Lama menarik perhatian lebih para mahasiswa. Salah satunya bangunan Gereja yang terdapat di sisi jalan. Bangunan ikonik dengan nuansa putih serta dilengkapi dengan kubah serta kaca-kaca pada jendela yang khas. Warna merah pada kubah Gereja tampak kontras dengan warna bangunan gereja dengan nuansa putih bersih. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel Semarang atau yang lebih dikenal dengan Gereja Blenduk. Sekilas bangunan gereja ini hampir sama dengan bangunan lainnya. Gaya arsitektur Kolonial Belanda yang kental terlihat dari tampak luar Gereja. Warisan arsitektur Kolonial dengan desain bergaya Pseudo Baroque khas Eropa abad 17-19 M.

Keistimewaan bangunan ini juga tampak pada denah dengan bentuk octagonal (segi delapan beraturan). Ruang utama yang terletak di pusat gereja yang sejajar dengan kubah. Biasanya ruangan ini difungsikan sebagai tempat ibadah. Gaya atap Gereja yang berbentuk kubah dengan desain unik yang serupa dengan kubah St. Peter’s di Roma karya seniman Michelangelo dan kubah St. Paul’s karya Sir. Christopher Wren. karena keunikan bentuk kubah ini pula, gereja ini kenal dengan nama Gereja Blenduk karena bentuk kubah yang seperti cembung yang menghadap ke bawah.

Selain bangunan utama serta kubah yang memukau, tangga melingkar yang terdapat di dalam gereja juga menjadi kekhasan tersendiri. Terlebih tangga ini mengarah pada orgel atau alat musik yang terdapat di lantai 2 gereja. Orgel antik yang hanya terdapat dua di Indonesia, salah satunya di GPIB Immanuel Jakarta. Mimbar Gereja Blenduk juga sangat unik, konstruksi langka yang terdapat pada mimbar ini membuat posisi mimbar mengambang dari lantai dengan sebuah tiang penyangga berbentuk oktagonal. Selain itu, gereja Blenduk juga memiliki tiga buah Lonceng dengan ukuran yang berbeda. Keindahan Gereja Blenduk lainnya juga terlihat pada mebel asli yang tetap dipertahankan baik bentuk dan kondisi fisiknya. Lampu gantung pada langit-langit gereja, bangku-bangku jati hingga kaca jendela Mozaik dengan desain ornamen klasik yang sangat khas.

Setelah puas melihat keindahan bangunan, mahasiswa SAA diajak untuk belajar sejarah gereja Blenduk. Sebagai salah satu gereja Kristen tertua di Indonesia, Gereja Blenduk tentulah mempunyai sejarah panjang yang menarik untuk diulik. Pada masa awal kehadirannya, gereja Blenduk masih dalam bentuk sederhana dengan arsitektur Jawa berbentuk rumah panggung Jawa yang dibangun oleh bangsa Portugis. Perubahan arsitektur ini diinisiasi oleh pemerintah Belanda dengan mengubah bentuk bangunan hingga menambahkan dua menara. Pada dinding Gereja terdapat inskripsi nama para pendeta yang pernah memimpin Gereja Blenduk. Pada masa awal dibangun, para pendeta yang berasal dari Belanda.

Mengulik sejarah Kekristenan di Indonesia, Semarang mungkin menjadi salah satu acuan dalam penyebaran Kristen. Merujuk pada lokasi Kota Semarang yang dahulunya merupakan kota Dagang yang terkenal karena adanya pelabuhan. Semarang selama masa Penjajahan menjadi kota perekonomian yang penting bagi Pemerintah Belanda. Imbasnya banyak bangunan serta infrastruktur lainnya mengalami pembangunan ulang guna menyokong kebutuhan bangsa Eropa yang menetap di Semarang.

Keberadaan ajaran Kristen di Indonesia diawali oleh pelayaran para bangsa Portugis yang menjajah kawasan Asia. mendaratnya bangsa Portugis di Maluku pada 1512 menjadi cikal bakal awal Kristen di Indonesia. Pengabaran Injil di Nusantara mulai menyebar hingga sampai ke Semarang. Setelah kekuatan Portugis hancur dan VOC mulai menjajah Indonesia, peralihan ajaran Katolik ke Protestan mulai menguat. Konversi agama ini sebagai bentuk loyalitas terhadap Belanda. Penyebaran Kristen oleh para Misionaris ini didukung penuh oleh Pemerintah Belanda baik dengan mendirikan sekolah hingga pusat kesehatan.



Misionaris penyebaran Kristen bukan hanya berasal dari Belanda, juga ada Misionaris Pribumi yaitu Kiai Sadrach. Beliau mendengarkan pengajaran misionaris Belanda, Jellesma. Perjalanan pencarian ilmu membawanya sampai ke Semarang dan mulai berguru pada Hoezoo. Sebelumnya Kiai Sadrach lahir dengan nama Radin dan saat memutuskan untuk menjadi Kristen dan dibaptis maka namanya diganti Sadrach. Perjalanannya setelah menjadi umat Kristen membawanya menjadi seorang pengabar Injil yang menyebarkan brosur dan buku-buku tentang agama Kristen di Batavia. Setelahnya ia kembali ke Semarang. Dari Kiai Sadrach ini pula nantinya muncul Kebaktian menggunakanbahasa Jawa.

Tim Redaksi Prodi

Nurul Khorina Seci Vella