Menyelami Kisah Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong, Sang Laksamana Muslim Penjelajah dari China.

Pada Sabtu 14 Januari 2023 Prodi Studi Agama-Agama Melakukan kunjungan Studi ke berbagai situs religi dan budaya yang terdapat di Semarang, Jawa Tengah. Salah satunya yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang terdapat di Semarang Barat, Kota Semarang. Kunjungan ini meliputi tour mengelilingi berbagai bangunan yang terdapat dalam kawasan Sam Poo Kong. Klenteng Sam Poo Kong merupakan Klenteng tertua di Semarang dengan luas 1.020 hektare.

Yayasan Sam Poo Kong didirikan oleh Thio Siong Thouw pada 1965 dan direnovasi pada 2002 akibat permasalahan banjir yang sering terjadi di sekitar Klenteng. Renovasi ini selesai pada 2006 yang bertepatan dengan 600 tahun kedatangan Cheng Ho ke Semarang. Bangunan yang terdapat di Klenteng meliputi bangunan Kuil Dewa Bumi, Makam Kyai Juru Mudi, Kuil Sam Poo Tay Djien, Makam Kyai Djangkar, Kuil Kong Hu Cu dan Kuil Hoo Ping, Nyai Cundrik Bumi atau Tempat penyimpanan Belati Suci dan makam Kyai Nyai Tumpeng.

Klenteng Sam Poo Kong didirikan sebagai bentuk penghormatan terhadap Laksamana Cheng Ho yang merupakan penjelajah yang mengunjungi Semarang dalam perjalanannya menyebarkan perdamaian.

Dikisahkan bahwa klenteng ini dulunya merupakan tempat tinggal para awak kapal Cheng Ho yang menetap di Jawa setelah perjalanan Cheng Ho di Nusantara. Bangunan dengan arsitektur khas budaya Asia Timur yang sangat kental terlihat dari bentuk bangunan dengan atap pagoda lapis tiga serta nuansa merah yang mendominasi. Selain dipengaruhi oleh arsitektur khas China, bangunan yang terdapat di Sam Poo Kong juga memiliki corak khas arsitektur Jawa abad ke 14.

Selama mengelilingi Sam Poo Kong, sesi melihat perjalanan Cheng Ho yang terdapat pada relief di dinding Klenteng menjadi salah satu sesi yang menyenangkan. Melihat perjalanan sang Laksamana Muslim dari China menuju Nusantara dan wilayah lainnya. Perjalanan Cheng Ho diawali dari upaya perdagangan dan perdamaian pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le. Perjalanan Cheng Ho di Nusantara membuatnya mengunjungi pulau Jawa pada 1406 dan merapat di Semarang saat juru mudinya mengalami sakit keras pada 1416. Sang juru mudi, Wang Jing Hong beristirahat sambil menjalani pengobatan.

Cheng Ho lahir dengan nama Me Ha pada 1371 di Provinsi Yunnan, merupakan putra kedua dari pasangan Ma Hazhi dan Wen. Saat wilayahnya dikuasai oleh pasukan Dinasti Ming saat melawan Basalawarmi. Ayahnya dieksekusi dan Cheng Ho muda ditangkap untuk dijadikan kasim dan melayani Pangeran Zhu Di. Pada masa ini pula Cheng Ho dikebiri. Sebagai pelayan khusus Pangeran yang nantinya akan menjadi kaisar membuat posisinya diangkat sebagai pegawai khusus pangeran.

Posisinya sebagai abdi negara ini membawanya berlayar ke berbagai penjuru dunia. Ditambah dengan prestasi cemerlangnya dalam dunia militer membuatnya dengan mudah mendapat gelar Laksamana dan ditambah dengan postur tubuhnya yang bagus. Ekspedisinya untuk berlayar ke penjuru dunia disponsori oleh pemerintahan Dinasti Ming. Kapal yang digunakan dalam pelayaran ini dikenal dengan nama “Kapal Pusaka” yang merupakan kapal terbesar pada abad ke-15.

Latar belakangnya sebagai seorang muslim tidak lantas hilang setelah ia didapuk sebagai pemimpin ekspedisi. Dibuktikan dengan sebelum pelayaran ini dilaksanakan, Cheng Ho beserta awak kapal muslim lainnya melaksanakan Sholat Subuh di masjid di Kota Quanzhou. Beragam ekspedisinya menuju berbagai penjuru dunia hingga membawanya ke Nusantara. Ekspedisi ketujuh Cheng Ho membawanya ke Nusantara. Wilayah pesisir laut seperti Samudera Pasai menjadi persinggahan pertama Cheng Ho yang dibuktikan dengan adanya cinderamata Lonceng Cakra Donya yang diberikan kepada Sultan Aceh.

Perhentian selanjutnya berlabuh di Muara Jati yang merupakan wilayah kesultanan Cirebon. Perjalanan panjang ini pula yang membawanya menepi di pesisir pantai Simongan, Semarang karena sang juru mudi yang sakit. Selama sang juru mudi, Wang Jing Hong mendapatkan pengobatan, Cheng Ho melanjutkan pelayarannya. Beberapa awak kapal yang ikut tinggal di Semarang dan menetap hingga menikah dengan penduduk lokal.

Perjalanan Cheng Ho bukan hanya sebatas perjalanan untuk perdagangan dan persahabatan saja, namun juga membawa misi perdamaian. Selain membawa misi perdamaian ini, agama Islam juga disebarkan secara tidak langsung oleh para awak kapal Cheng Ho. awak kapal yang mayoritas beragama Islam ikut menyebarkan agama Islam saat sedang bersandar di pesisir pantai untuk berdagang. Bahkan hingga kini berkat kontribusi Cheng Ho di Nusantara, namanya banyak diabadikan sebagai nama Masjid di Indonesia.

Tim Redaksi Prodi

Nurul Khorina Seci Vella