Launching Pusat Studi, Center for Religious Studies (CARE), dalam Kegiatan Refleksi Perdamaian

Sebagai bagian dari upaya menghidupkan kultur akademik studi agama, Program Studi Agama-Agama akhirnya meresmikan lembaga pusat studi. CARE atau Center for Religious Studies diresmikan oleh Ibu Dr. Inayah Rohmaniyah, S.Ag. M.Hum., M.A selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, di Smart Room, Jumat, 16/12/2022.
Dekan Fakultas Ushuluddin menyampaikan harapan besarnya kepada CARE untuk bisa menjadi wadah inklusif yang memperjuangkan nilai-nilai humanis, toleran, dan pluralis. Dengan hadirnya CARE sebagai pusat studi diharapkan mampu mendorong kerjasama yang lebih luas dengan komunitas atau badan swasta lainnya, seperti Simpul Lintas Iman Community (SIM-C) atau Youth, Interfaith and Peace Center (YIPC), dan lembaga lainnya. Sehingga hubungan antar agama, dialog, dan kerjasama dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Dr. Dian Nur Anna, S.Ag., M.A, sebagai ketua program studi, menyampaikan harapan dan doa semoga langkah awal kerjasama lintas agama ini dapat dilanjutkan. Penyerahan piagam diberikan secara simbolik kepada Bu Siti Khodijah Nurul Aula, M.Ag, sebagai ketua pusat studi ini. Acara lalu dilanjutkan oleh foto bersama dan kegiatan refleksi perdamaian. Refleksi Perdamaian dengan tema “Meneruskan Teladan Isa Al-Masih (Perspektif Islam-Kristen)” dimoderatori oleh Ka Ester Nurhana Kusumawati, mewakili YIPC Yogyakarta.
Refleksi Perdamaian ini juga dimeriahkan oleh diskusi-diskusi menarik dari kedua narasumber, yakni: Dr. Ustadi Hamsah, S.Ag., M.Ag., ketua program studi Magister Studi Agama-agama, dan Dr. Andreas Jonathan, Direktur Pusat Studi Agama dan Perdamain UKRIM. Diskusi dimeriahkan tidak hanya oleh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, tapi turut hadir juga para mahasiswa dari Universitas Kristen Immanuel (UKRIM), Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta (STTII), dan dari YIPC.
Kesimpulan diskusi refleksi perdamaian ini melihat bahwa Isa Almasih hadir sebagai figur mulia dan sangat dihormati dalam Islam dan Kristen. Umat Islam memahami Nabi Isa sebagai penerus ajaran para rasul terdahulu untuk menebar cinta kasih. Ia, dalam al-Quran, disebutkan sebanyak 25-32 kali. Disematkan kepada beliau nama-nama lain seperti kalimah (3:39); Ruh (2:87; 2:253); Rahmah (19:117); Permisalan/Matsal (3:59; 43: 57-59). Kerelaan Yesus untuk melayani seluruh umat menjadi bukti bahwa Ia adalah sosok yang penuh cinta kasih. Sebagai generasi saat ini, kita juga sedapat mungkin harus mencontoh Yesus. Mengembangkan cinta kasih, terbuka, dan merekatkan persaudaraan sesama manusia. Kegiatan lalu ditutup dengan diskusi, sesi tanya jawab, dan penyampaian informasi “Peace Camp” dari YIPC.