YIPC dan Studi Agama-Agama Berkolaborasi Menyelenggarakan Bedah Buku dan Nobar

Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) dan Prodi Studi Agama-Agama berkolaborasi berupa bedah buku dan nonton film, Jumat, 09/12/2022. Kegiatan ini sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM). “Pesan Damai dari Milenial Peacemaker” merupakan buku cerita dari berbagai penulis berisi satu pesan yang sama yaitu bagaimana dialog di kalangan generasi muda digaungkan. Begitu juga dengan film pendek perdamaian (berdurasi 20 menit) menjadi pembuka sesi dialog ini, berjudul “Merayakan Perbedaan dalam IV BAB”.
Film ini menceritakan kisah identitas tertentu yang “berbeda”, sebagaimana representasi hadir di realitas hidup tanpa bisa dibantah. Mutlak. Tokoh-tokoh yang terlibat diwakili oleh penyandang disabilitas, penghayat Sapta Dharma, Mahasiswa Kristiani, dan Muslimah beretnis Jawa-China di Yogyakarta. Setiap orang yang terlibat memaknai dan merayakan ‘keragaman’ yang mereka lalui dengan khas, tidak sama, dan personal.
Bedah buku dimoderatori oleh Anditya Restu Aji, S.I.P., M.Han dengan dua narasumber yakni: Dr. Dian Nur Anna, S.Ag., M.A, sebagai Ketua Prodi Studi Agama-agama, dan Riston Batuara, M.Th, selaku Direktur YIP Center.
Bu Dian, pembicara pertama, menyampaikan bahwa problem atau konflik antar manusia itu hal yang tidak bisa dihindari, niscaya, dan selalu ada. Sebagai upaya mengatasi permasalah itu, khususnya dalam kontek antar iman dan lintas agama, kita harus mengembangkan kesadaran dalam berkomunikasi dengan yang “lian”. Dengan kualitas komunikasi yang baik, kita bisa berkontribusi dalam upaya-upaya membangun jembatan perdamaian. Membuka diri untuk memahami, dan mengurangi prasangka-prasangka negatif yang tidak perlu.
Bang Riston, sapaan akrab nya, menyampaikan isi buku ini yang diharapkan akan sedikit banyak membantu pembaca dalam membuka pemahamannya dari sudut pandang lintas agama. Setiap penulis, dalam proses penulisan, mengharuskan mereka menyelami dan membuka kembali bagaimana agama dan sisi negatifnya berdampak dalam hidup secara personal. Namun, lewat kesadaran bahwa ‘luka’ itu ada, setiap penulis akhirnya timbul kesadaran untuk menyembuhkan luka-luka itu.
Acara kemudian dilanjutkan dengan testimoni oleh aktor film dan kontributor penulis buku. Mas Andika merasa senang menjadi bagian dari film tersebut. Sebagai penyandang disabilitas, ia berpesan kepada yang hadir untuk membantu kaum disabilitas dalam memenuhi hak-haknya. Bukan dikasihani, tapi ditolong. Kak Ester, salah satu penulis, berharap buku ini menjadi pemandu kaum muda untuk mengembangkan sikap-sikap terbuka, toleransi, dan saling memahami satu dengan yang lain.
Sebelum kegiatan ditutup dengan foto bersama, sesi diskusi membahas dua pertanyaan mengenai langkah konkrit pemuda dalam melerai konflik dan tentang sejarah YIPC berdiri.
Penulis: Muhsin Nuralim