Mahasiswa Studi Agama-agama Peringati Hari Konsili Bersama Umat Lintas Agama

Dalam rangka memperingati reformasi gereja dan 60 tahun konsili Vatikan II, YIPC YYK (Young Interfaith Peacemaker Community Yogyakarta) mengadakan diskusi lintas agama dengan tema “Masa Depan Dialog Antar Iman dan Peran Kaum Muda” yang dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 22 Oktober 2022 di Kolsani - Kolese St. Ignatius (Kota Baru). Beberapa mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga menghadiri kegiatan yang di gelar YIPC YYK. Forum ini bersama mendiskusikan sejarah dan dampak reformasi gereja di masa sekarang. Seperti biasa, forum YIPC selalu diwarnai retorika harmonis berbagai umat beragama .

Sebagai pembuka dialog ini, Albert P. Sihotang sebagai pemantik membahas mengenai sejarah awal reformasi gereja di Eropa. Reformasi gereja terjadi sekitar abad 14 sampai 16, pergerakan awal terjadi ketika Luther (Biarawan Jerman) mengkritik gereja Katolik dalam debat public di Leipzig dengan perkataanya “Orang awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan kardinalnya”. Karena kritik ini Luther mendapat beberapa ancaman dari anggota gereja dan dikucilkan agar tidak dapat mengikuti sakramen.

Selanjutnya Luther mendirikan gereja Protestan dan membuat terjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke dalam bahasa Jerman agar lebih mudah dan banyak dipahami dan dipelajari . Setelah kejadian ini banyak dampak yang dirasakan oleh masyarakat, baik dalam aspek sosial maupun ketuhanan.

Frater Yulius Suroso, SJ (Pemantik) mengatakan bahwa manusia itu memiliki akses langsung kepada Tuhan. Jika dihubungkan dengan dampak yang terjadi setelah reformasi gereja terkait residensi iman 5 atau disebut lima sola (Anugrah, Iman, Kristus, Alkitab, dan Kemuliaan) semakin menguatkan statement bahwa manusia memiliki kanal menuju Tuhan. Seminari adalah salah satu wujud nyata dalam mewujudkan akses kepada Tuhan, karena dalam pembentukan pemimpin gereja yang berwawasan serta beriman tinggi membuat jamaat didalamnya semakin mengenal Kristus.

“Dalam forum ini kita bisa bersama belajar dan saling berbagi tradisi yang berbeda, yang menarik bagi saya dalam forum-forum seperti ini kita bisa merasakan harmoni tanpa ada sentimen” Faiz (Mahasiswa baru Studi Agama-agama). Peranan anak muda dalam reformasi gereja memiliki banyak potensi yang lebih baik untuk berdialog dan mau bergerak lebih dari biasanya. Terbukanya pemikiran untuk saling mengkaji perbedaan dan tidak lagi membandingkan bisa memajukan standar dalam beragama, terutama di dalam gereja sebagai bentuk reformasi yang nyata.

Reporter: Rif'atul Maula