Pelatihan Guru-Guru Madrasah Aliyah Tentang Moderasi Beragama

Sejarah telah membuktikan bahwa agama pernah menjadi penyebab pertumpahan darah dan kekerasan sesama penyembah Tuhan. Terjadinya fitnah al-kubro dalam Islam, perang Salib, perang antara Protestan dan Katolik selama 30 tahun di Eropa, perang agama selama satu abad di Eropa, merupakan bukti-bukti empirik bagaimana agama menjadi motivasi semuanya. Umat beragama menjadi begitu beringas dan radikal terhadap yang lain (others), nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan, keadilan tertimbun rapat di balik lembaran-lembaran kitab suci masing-masing dan seperti luput dari pembelajaran agama sehari-hari.
Pesan damai adalah pesan murni dari semua agama. Agama perlu didudukkan kembali pada posisi asli sebagai kekuatan membangun kedamaian dan peradaban manusia yang hakiki, di samping pada saat bersamaan menepis segala bentuk ambivalensi desktruktifnya. Prodi Studi Agama sebagai salah satu institusi pendidikan yang memiliki concern dalam membangun keberagamaan yang toleran dan moderat perlu terus berusaha ikut mengembalikan keberagamaan yang sejuk dan ramah.
Agama karenanya dalam tataran historis seringkali menunjukkan dua wajah gandanya; terkadang sangat ramah terhadap manusia dan kemanusiaannya, tetapi tidak jarang pula menunjukkan wajahnya yang amat “marah”. Fenomena ini jelas sangat mengkhawatirkan dan menjadi ancaman bagi keutuhan tatanan sosial masyarakat. Setiap orang memang berhak dan harus berpegang teguh pada keyakinan agamanya, akan tetapi bagaimana agar keyakinan itu tidak mengusik kelompok yang berbeda keyakinan dan juga tidak merusak tatanan hidup bersama adalah bagian dari kebenaran agama itu sendiri. Apalagi jika ekspresi keyakinannya itu ditempuh dengan tindakan refresif dan radikal atas nama agama, jelas-jelas menunjukkan semangat yang justru berlawanan dengan agama.
Dalam konteks kehidupan sosial, klaim kebenaran atas suatu paham keagamaan dan penghakiman terhadap paham lain sebagai sesat dan kafir sehingga tidak masalah untuk tidak dihormati dan dihargai jelas akan mengganggu sendi-sendi kerukunan dan kedamaian sosial. Jika sikap demikian masih tumbuh subur, maka membangun toleransi kehidupan beragama akan sulit terwujud. Sikap yang bijak dalam menyikapi perbedaan menunjukkan tinginya toleransi beragama dan toleransi itu pula yang akan membuahkan perdamaian.
Dengan berdasar pada fenomena tersebut, prodi Studi Agama-agama bekerjasama dengan Institut Leimena mengadakan kegiatan pelatihan guru-guru Madrasah Aliyah tentang Moderasi Beragama pada tanggal 22 November 2021. Kegiatan ini meneguhkan kompetensi pribadi sebagai Muslim dan juga mendatangkan narasumber dari pemuka agama lain, yakni pendeta Kristen dan Rabu Yahudi. Kegiatan ini bertujuan untuk lebih mengetahui tentang moderasi beragama berdasarkan agama Islam dan lebih membuka pengetahuan tentang agama lain dari para pemukanya, serta sebagai media komunikasi antar agama supaya lebih mengenal dan memahami perbedaan serta memupuk toleransi beragama.
Prodi Studi Agama perlu untuk terus mengkampanyekan pemahaman keagamaan yang damai, santun, dan toleran demi sebuah kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama yang maju. Karena tidak ada kemajuan dalam sebuah Negara, tanpa ada perdamaian antar agama di dalamnya. Oleh karena itu, kegiatan ini merupakan kontribusi akademik Prodi Studi Agama dalam ikut serta secara nyata untuk membangun kedamaian di tengah berbagai macam perbedaan dan pluralitas. Upaya ini layak untuk diapresiasi dan disosialisakan kepada seluruh elemen bangsa ini agar Prodi Studi Agama dapat memberikan kontribusi nyatanya bagi bangsa ini.