HMPS SAA dan Harapannya akan Masa Depan Studi Agama-Agama
Studi agama sendiri mulanya merupakan sebuah kegiatan atau perkumpulan yang membahas tentang berbagai agama dan keyakinan yang difokuskan pada metode ilmiah, bersifat subjektif, serta tanpamenaruh kesan dan keyakinan lebih mendalam saat mempelajarinya. Pada awal kemunculan dari studi ini, ada beberapa nama yang disematkan di negara-negara lain di luar Indonesia. Beberapa di antaranya seperti The Scince of Religion, Religionswissenschaft, dan Phenomenology of Religion. Di Indonesia sendiri, seperti yang diketahui terutama oleh golongan pegiat Studi Agama, yakni dikenal dengan sebutan Studi Agama-Agama atau Perbandingan Agama.
Keilmuan ini pertama kali datang dibawakan oleh seorang Profesor dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kini telah berganti menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yakni Prof. Dr. H.A Mukti Ali (alm) pada tahun 1965. Hal ini didukung karena beliau merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi di Montreal, yakni McGill University dan beliau bertemu dengan Wilfred Cantwell Smith yang sedikit banyak pemikirannya terpengaruh oleh Joachim Wach yang terkenal dengan teorinya—The Comparative Study of Religions. Setelah studi ini diperkenalkan di Indonesia, diberilah nama menjadi Ilmu Perbandingan Agama dengan macam disiplin ilmu pendukung lainnya seperti Sosiologi Agama, Psikologi Agama, Antropologi Agama, Sejarah Agama, Perbandingan Agama, Fenomenologi Agama, dan lain sebagainya.
Setelah membicarakan mengenai sejarah dari ilmu Studi Agama-agama beserta disiplin ilmu pendukung lainnya, tentu tidak sampai di situ saja yang harus diketahui tentang studi ini. Ilmu perbandingan agama atau yang lebih kita kenal dengan ilmu Studi Agama-agama, dewasa ini sudah tersebar luas di beberapa PTKIN seperti IAIN Pontianak, UIN Imam Bonjol, UIN Raden Intan Lampung, UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Sumatra Utara, UIN Walisongo, UIN Ar-Raniry, dan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Terlepas dari itu, kita tentu tahu bahwa hampir tiap program studi dalam jenjang pendidikan tentu ada organisasi atau himpunan yang bertujuan sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi dengan mahasiswa lain sesama program studi, menjalin relasi, mengasah bakat dan minat, serta yang tak kalah penting adalah sebagai media aktif untuk menghidupkan jurusan Studi agama-agama melalui mahasiswanya sendiri.
Organisasi atau himpunan ini bernama Himpunan Mahasiswa Program Studi atau yang biasa disingkat dengan HMPS. Hal ini dapat dilihat dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi jurusan Studi Agama-agama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai contohnya. Akan tetapi, perlu digarisbawahi pula bahwa seberapa bagus organisasi tersebut, pastilah ada orang-orang yang sangat kompeten di dalamnya. Untuk itu, sudah dipastikan adanya pemilihan anggota yang selektif dan bijak demi mempertahankan kualitas daripada hanya sekadar kuantitas belaka. Sesuai dengan tujuan awal mula dibentuknya studi Perbandingan Agama di Eropa, yakni tidak sebagai ‘pembanding’ satu agama dengan agama lainnya, kemudian merasa paling benar, melainkan mempelajari seluruh agama untuk menciptakan pengetahuan yang baik terhadap agama-agama lain sehingga terwujud perdamaian yang nyata dari seluruh pemeluk agama di dunia.
Tak menutup kemungkinan, banyak hal yang dapat diwujudkan oleh HMPS ini. Seperti mengadakan jumpa komunitas antar iman yang bisa dilakukan melalui kerja sama dengan organisasi ASAI Indonesia, mengadakan diskusi dengan masing-masing pemuka agama, mengaktifkan kembali berbagai website dan sosial media yang dimiliki HMPS guna mengangkat kembali HMPS agar semakin dikenal baik dan aktif tidak hanya di dalam UIN Sunan Kalijaga saja, melainkan juga kepada masyarakat pada umumnya. Dengan pengadaan acara-acara semacam ini, diharapkan dapat tumbuh jiwa dan sikap toleransi yang makin tinggi dari pemuda seluruh Indonesia. Akan tetapi, membicarakan tentang kualitas dan kuantitas yang telah saya singgung sebelumnya, kembali saya tegaskan bahwa baik atau tidaknya HMPS ini adalah pada masing-masing individu yang berkualitas dan bisa berkomitmen penuh untuk mewujudkan cita-cita HMPS dan menegakkan perdamaian di seluruh Indonesia khususnya, dan dunia pada umumnya.
Annisa Rahmalia Dardiri, Mahasiswa Studi Agama-Agama 2019