Kunjungan ke Gereja Jawa Kristen Mergangsan

Mahasiswa Studi Agama-Agama, Sabtu, 05 November 2022, mengunjungi Gereja Jawa Kristen Mergangsan di Jl. Taman Siswa No.166, Wirogunan, Kec. Mergangsan, Yogyakarta. Kunjungan kali ini dipandu oleh narasumber Pdt. Hendra, pendeta generasi ke-4, bersama dengan Bpk. Arafat Noor Abdillah, sebagai moderator.
Sebelum membahas mengenai Gereja Jawa Kristen Mergangsan, Pdt. Hendra menerangkan mengenai sejarah masuknya gereja di Jawa Tengah. Pada awalnya ajaran kekristenan dibawa oleh Belanda, walaupun fokusnya bukan terletak pada ajaran teologi tetapi pada kesehatan dan pembangunan rumah sakit. Ajaran kekristenan terselip diantara tujuan utama itu, sampai akhirnya ajaran kekristenan ini meluas di Jawa Tengah. Pelopor terbentuknya gereja Jawa adalah Pdt. Satra. Gagasan ini direalisasikan karena hilangnya budaya asli Indonesia di dalam gereja, yang terjadi saat itu orang masuk Kristen karena mencari keamanan bukan keimanan, sehingga budaya Barat sangat mempengaruhi ajaran kekristenan sehingga timbul kekhawatiran Jemaat tidak lagi mengenal budaya sendiri.
Pada awalnya Gereja Jawa Kristen Mergangsan bernama Gereja Jawa Tungkak. Gereja ini resmi didirikan pada 15 Maret 1925 dengan 15 orang Jamaat. Gereja ini dibangun oleh komunitas kekristenan Gondokusuman yang pada mulanya bertujuan untuk mengangkat “kampung kere” dan mensejahterakan ekonomi masyarakat.
Gereja Jawa Kristen Mergangsan masih menggunakan tradisi Jawa, seperti peringatan kematian di hari pertama, ketiga, ketujuh, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun. Walaupun dalam konsep kekristenan orang yang sudah meninggal tidak ada hubungan lagi dengan kehidupan di dunia. Peringatan kematian ini tidak diwajibkan, karena tradisi ini digunakan untuk mendoakan keluarga yang ditinggalkan bukan yang sudah meninggal.
Sekarang ini Gereja Jawa Kristen Mergangsan telah berkembang dengan Jemaat sekitar 1459 orang, 20 diantaranya adalah anggota PEJ (Perkembangan Ekonomi Jemaat) yang kebutuhan finansialnya ditanggung sepenuhnya sampai meninggal dunia, dan sekitar 12 orang lainnya adalah penerima beasiswa pendidikan dari gereja. Perkembangan gereja dalam memperbaiki masalah ekonomi dapat kita contoh sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama makhluk Tuhan.
“Harapannya kunjungan ini dapat menjadi event implementasi hal-hal yang telah dipelajari di perkuliahan” ujar Ibnul Hafiz sebagai penanggung jawab kunjungan ini