Adakan Seminar Toleransi, Respon Mahasiswa SAA UIN Jogja Terhadap Konflik Keagamaan yang Sering Terjadi

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga, telah rampung mengadakan seri pertama dari pagelaran “Sekolah Toleransi” pada Sabtu (30/10/2021).
Adapun tema yang diangkat yakni “Konflik Masyarakat Beragama: Benarkah Karena Ketidakadilan Negara?” dengan menghadirkan keynote speaker dari Kepala Kemenag DIY, Dr. H. Masmin Afif, M.Ag., serta tiga narasumber; Prof. Dr. Media Zainul Bahri, M.A. (guru besar UIN Jakarta), Dr. Ahmad Salehudin, S.Th.I., M.A. (dosen Studi Agama-Agama UIN Jogja), dan Dr. Moh. Soehada, S.Sos., M.Hum. (dosen Sosiologi Agama UIN Jogja).
Dengan mempertimbangkan kondisi yang masih dalam masa pandemi, maka acara tersebut dilakukan melalui webinar Zoom Meeting.
“Pekan Sekolah Toleransi ini memang sudah dari dulu dilakukan. Hanya saja, sudah dua tahun ini, karena pandemi, maka dilaksanakan secara daring. Yakni berupa webinar di platform Zoom Meeting”, kata Fauzi, ketua panitia acara, pada Jumat (29/10/2021).
Dalam pengantar diskusinya, moderator acara—Arafat Noor Abdillah, S.Ag., M.Ag.—mengatakan bahwa dari dulu sampai sekarang, konflik keagamaan di Indonesia belum juga usai. Setidaknya, ada dua macam konflik. Pertama, antar sesama umat beragama. Kedua, umat beragama dengan pemerintah. Untuk yang terakhir itu, bisa jadi karena ada pihak-pihak yang tidak terima dengan dasar negara, sebab dianggap bertentangan dengan pemahaman agama yang diamini. Atau bisa juga dari politik identitas keagamaan sehingga timbul persaingan antar umat beragama dalam kontestasi politik.
“Politik identitas memang berbahaya. Bahkan ketika pemilu tahun 2019 kemarin, di daerah Madura ada pasangan suami istri yang bercerai hanya gara-gara beda pilihan politik,” ucap Salehudin ketika memaparkan materinya.
Selain itu, menurut Media Zainul Bahri, bahwa politik seringkali memecah belah agama. Misal dalam agama Islam, timbulnya banyak aliran di awali dengan peperangan antara Ali dan Muawiyah. Dalam agama lain pun juga tidak jauh beda.
“Dalam konteks Indonesia, antara negara dan agama bersifat mutual, saling membantu. Kemenag yang berfokus dalam mengatur urusan keagamaan masyarakat sudah semaksimal mungkin dalam melayani urusan tiap agama,” ucap Masmin Afif dalam presentasinya.
Hal senada juga turut disampaikan oleh Moh. Soehada, bahwa dalam sudut pandang sosiologi, konflik keagamaan yang sering terjadi biasanya diawali dengan perbedaan tafsir terhadap teks agama. Hal itu kemudian merambah ke jejaring yang lebih luas sampai akhirnya terbentuk politik identitas antar agama maupun sekte.
Sebenarnya, seminar di atas merupakan bagian dari rangkaian acara Sekolah Toleransi, yang tahun ini mengambil grand tema “Agama, Umat, dan Negara” dan semuanya dikemas dalam webinar. Adapun acara tersebut dibagi menjadi empat sesi. Yakni pada hari Sabtu, 30 Oktober, dengan dua sub tema, “Konflik Masyarakat Beragama: Benarkah Karena Ketidakadilan Negara?” serta “Agama dan Media: Segregasi Masyarakat Beragama di Era Digital”. Hari Minggu, 31 Oktober, dengan satu sub tema, “Pengaruh Sekte Keagamaan Terhadap Keutuhan Indonesia,” dan acara terakhir yang akan digelar pada hari Sabtu, 13 November, dengan konsep acara road show virtual tour yang bertajuk, “Melihat Lebih Dekat Ritus Agama dan Kepercayaan: Kelenteng Poncowinatan Jogjakarta”.
“Saya kira, dengan adanya pagelaran Sekolah Toleransi tersebut, mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Jogja dapat menambah wawasan yang lebih luas. Selain itu, acara seperti ini juga sebagai upaya bagaimana Studi Agama-Agama ikut berperan aktif alam menyuarakan toleransi dan perdamaian,” ucap Dian Nur Anna, Kaprodi SAA UIN Jogja, saat memberikan sambutan pada pembukaan acara tersebut.
Penulis; Slamet Makhsun (Sekretaris HMPS SAA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)