Mengenal Agama Lebih Jauh: Nasib Umat Beragama di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh: Slamet Makhsun*)
Tulisan ini merupakan notulensi dari webinar Diskusi the Series #3 HMPS SAA UIN Sunan Kalijaga, pada hari Jumat 9 April 2021, dengan pembicaranya H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.A., Ph.D.*)
Sejarah mencatat, bahwa agama yang terlembagakan telah menunjukkan kecenderungan untuk mengemban dua sikap ekstrem: kecenderungan yang bersifat ‘mistik’ dan individual di satu sisi, serta legalistik dan organisasional di sisi lain. Pribadi religius yang otentik dan memiliki pemahaman yang mendalam, akan mampu mengintegrasikan kecenderungan-kecenderungan tersebut dengan mudah. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak bisa, maka akan jatuh ke dalam berhalaisme lembaga agama.
Memang benar bahwa suatu agama membutuhkan lembaga sebagai pengatur dari segala aktivitas dan dinamikanya. Namun, justru hal ini yang secara perlahan akan memonopoli dan menjadikannya sebagai pemegang otoritas tertinggi. Tafsir-tafsir kalam Tuhan hanya akan dikuasi oleh segelintir orang yang ada di sirkel lembaga tersebut. Bilamana ada penafsir lain yang berseberangan pendapat dengan mereka, maka sudah dipastikan akan terjadi segregasi dan pada akhirnya akan dicap sesat. Bid’ah.
Lembaga agama demikian ini, akan mengklaim bahwa pewahyuan dasar sudah lengkap, sempurna, dan abadi. Kekritisan terhadap ajaran maupun teks-teks agama akan stagnan. Agama tidak memilki hal apapun untuk dipelajari lagi. Leksikal tersebut akan mendorongnya ke dalam posisi yang menghancurkan, menolak perubahan, konservatif, anti intelektual, dan anti sains. Serta iman yang dianut oleh pemeluknya, menghasilkan ketaatan mutlak dan kesetiaan yang membabi buta tanpa tahu alasan kenapa harus demikian.
Di samping lembaga agama yang kian parah ini, juga menjamur berbagai aktivitas sains yang pada ufuknya justru menjadi ‘musuh’ agama. Sains yang semacam itu menganggap dirinya merdeka dan bebas dari nilai etika moral apapun. Bagi mereka, jika sains masih terkontrol oleh nilai etika moral cum agama, maka tak ubahnya seperti kuda yang mendapati tali kekang dengan kuat. Hanya berdiam dan berdiri di tempat.
Sains maupun agama, telah sedemikian sempit dipahami, telah sedemikian terkotak-kotakkan serta terpisah secara eksklusif satu sama lain. Keduanya dipandang sebagai kutub magnet yang saling menolak. Singkatnya, pemisahan ini memungkinkan sains pada abad 19 menjadi mekanistik, positivistik, reduksionistik, dan terlalu semangat untuk menjadi bebas nilai. Sains memahami dirinya sendiri secara keliru karena tidak memiliki apapun untuk dikatakan tentang tujuan akhir atau nilai-nilai spiritual tertinggi.
Sikap semacam itu telah melahirkan berbagai ‘monster’ teknologi yang amoral. Lihatlah seperti yang dilakukan oleh dokter-dokter Nazi di kamp-kamp penahanan, tragedi holocaust, pengeboman Hirosima dan Nagasaki, serta kejahatan amoral lainnya. Sains seperti ini akan stagnan sebagai kumpulan instrumen-instrumen belaka, menjadi alat-alat yang tidak ada hal apapun kecuali digunakan oleh sembarang manusia untuk sembarang tujuan, entah baik atau jahat.
Lalu bagaimana solusi dari problematika di atas? Kesimpulan akhir yang dapat diambil ialah bagaimana mengintegrasikan antara agama dan sains. Keduanya harus berkelindan dan berimbang. Bahwa sains harus diarahkan kepada nilai-nilai akhir yang seperti agama ajarkan. Yakni menuju dinamika humanis dan bermanfaat untuk manusia. Pada gilirannya, hal demikian akan menuntun manusia kepada nilai-nilai agung yang menjadi pegangan dan tujuan hidup.
Sains dan agama, setidaknya dipandang sebagai bagian dari upaya mencetak manusia-manusia yang baik, sebagai sarana untuk mendorong terciptanya kehidupan dan masyarakat yang berperadaban. Mengabaikan hal ini sama halnya dengan mengabaikan kenyataan dan kebutuhan manusia di masa depan. Lebih lanjut, sains yang tidak menyentuh aspek moralitas agama, adalah sains yang tidak menyampaikan hal penting apapun tentang makna kehidupan. Sebaliknya, agama yang sama sekali tidak mengakrabi sains, hanya akan mencetak ‘berhala-berhala’ baru yang akan memperbudak manusia atas nama ‘Tuhan’.
Jika telah sukses mengkomparasikan agama dan sains, maka pemeluk agama bisa melewati revolusi industri 4.0 dengan baik. Bahkan, mau revolusi yang ke berapa pun, manusia akan siap melewati. Agama dan sains telah nyata sebagai pegangan hidup manusia. Sains berdimensi material, sedangkan agama berdimensi moral. Kedua hal itu bagai dua sisi uang koin, tidak dapat terpisahkan, berkelindan, dan saling membutuhkan.
*) H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.A., Ph.D., Dosen Prodi Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
*) Slamet Makhsun ,Sekretaris HMPS SAA periode 2020/2021