Maraknya Kekerasan Antar Umat Beragama, HMPS SAA UIN Jogja Adakan Dialog Lintas Iman

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Studi Agama-Agama UIN Jogja, telah usai menyelenggarakan dialog interaktif lintas iman pada Minggu (31/10/2021). Acara tersebut merupakan salah satu upaya bagaimana mahasiswa Studi Agama-Agama khususnya dan masyarakat pada umumnya, untuk dapat saling kenal dan memahami antar pemeluk agama.

“Acara ini merupakan salah satu bukti konkrit bahwa mahasiswa Studi Agama-Agama ialah mahasiswa yang terbuka dan aktif dalam menyuarakan toleransi. Sebab, toleransi bisa terbentuk karena diawali dari saling kenal dan saling memahami,” kata ketua HMPS SAA UIN Jogja, Muhamad Fauzi pada Jumat (29/10/2021).

Karena masih dalam masa pandemi, maka acaranya digelar melalui zoom meeting. Adapun temanya ialah “Pengaruh Sekte Keagamaan Terhadap Keutuhan Indonesia” yang dipandu oleh Derry Ahmad Rizal, M.A. (dosen SAA UIN Jogja) dan dihadiri oleh tiga narasumber, yakni Romo Dr. Martinus Joko Lelono, SS, M.Hum. yang mewakili agama Katolik, Pandita Muda Totok Tejamanu dari agama Budha, serta KH Achmad Labib, S.E., M.M. yang mewakili agama Islam.

Menurut Na’imatuz Zahriyah, wakil ketua HMPS SAA UIN Jogja, dialog tersebut mengambil tema yang berkaitan dengan keutuhan negara karena saat ini masih sering terjadi bughot yang dilakukan atas nama agama. Demikian itu karena masih banyak orang yang beranggapan jika dasar dan sistem negara tidak sesuai dengan tafsiran agama yang mereka amini, maka wajib hukumnya untuk diubah. Sebab, diklaim bertentangan dengan perintah Tuhan.

Hal diatas turut diamini oleh KH Achmad Labib, kata beliau, “Belum lama ini, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah dibubarkan. Kita patut bersyukur. Jika organisasi tersebut tidak dibubarkan, maka Indonesia akan terancam oleh krisis peperangan antar umat beragama. Kaum-kaum radikalis terlalu saklek dalam menafsirkan teks-teks agama. Jangan sampai tragedi pembunuhan karena beda agama atau sekte terjadi lagi. Toh perbedaan yang dimiliki oleh manusia merupakan ejawantah dari rahmat Tuhan sendiri.”

Menurut Romo Joko dan Pandita Totok, dasar negara yang berupa UUD ’45 dan Pancasila sudah tepat dengan kondisi bangsa yang multikultural ini. Mereka meyakini jika selama dasar negara tersebut berlaku, maka peperangan atau konflik antar umat beragama bisa terus diminimalisir.

Atas dasar seperti itu, maka dialog lintas iman sangatlah diperlukan. Itu bukan acara untuk saling berdebat dan pamer agamanya masing-masing, melainkan untuk menyambung tali persaudaraan sesama anak bangsa. Keberbedaan adalah suatu hal yang mutlak,” ucap moderator, Derry Ahmad Rizal, ketika memberi pengantar dalam acara tersebut.

Sebenarnya, dialog lintas iman ini merupakan rangkaian acara dari pekan Sekolah Toleransi yang sudah menjadi agenda tahunan HMPS SAA UIN Jogja. Acara-acara semacam itu akan terus digaungkan dalam ranah kampus, karena selain sebagai ruang diskusi, juga berfungsi untuk membentuk mahasiswa-mahasiswa yang dapat menebarkan toleransi.

“Kami dari pihak Prodi Studi Agama-Agama akan terus mendukung acara-acara HMPS SAA. Bagaimana pun juga, dialog-dialog seperti itu akan terus diperlukan. Indonesia adalah negara yang beragam agamanya. Sehingga, acara-acara seperti itu merupakan salah satu upaya dari jurusan Studi Agama-Agama dalam rangka menebarkan toleransi di bumi Indonesia,” ucap Kaprodi SAA UIN Jogja, Dr. Dian Nur Anna pada Senin (1/11/2021).

Penulis: Slamet Makhsun (Sekretaris HMPS SAA UIN Jogja)