Racial & Religious Profiling: Tantangan Kehidupan Beragama

Oleh: Slamet Makhsun *) (Sekretaris HMPS SAA periode 2020/2021)

Tulisan ini, merupakan notulensi dari webinar Diskusi the Series #4 HMPS SAA UIN Sunan Kalijaga, pada hari Senin 26 April 2021, dengan pembicaranya Dr. Roma Ulinnuha, M.Hum

Suatu keniscayaan jika alam semesta ini, memiliki kandungan yang sangat beragam. Dari tumbuhan, hewan, manusia, sampai benda mati pun, tentu memiliki corak perbedaan. Jika mengutip dalam perspektif Islam, bahwa Tuhan telah menciptakan makhluknya berbeda-beda. Secara tegas dikatakan bahwa tiada satu makhluk pun yang sama. Misalpun banyak makhluk yang satu jenis atau satu spesies, dipastikan dapat ditemui perbedaannya. Inilah salah satu dalil kuat bagi pemeluk agama, bahwa kekuasaan Tuhan memang benar-benar nyata.

Dari dulu sampai sekarang, argumen pemeluk agama seperti diatas, belum bisa dibantah oleh orang atheis. Jika menilik satu hal kecil, sebutlah gen yang ada di tubuh setiap makhluk hidup, sama sekali tidak ada yang sama. Jutaan atau bahkan triliunan makhluk hidup dari yang bersel satu sampai yang memiliki jaringan sel yang kompleks, belum ditemukan makhluk yang memiliki gen sama. Masyhur hal tersebut, telah diteliti oleh ahli-ahli biologi. Dan hasilnya, apa yang dikatakan dalam kitab suci bahwa Tuhan telah menciptakan makhluk yang berbeda-beda, nyata dan benar adanya.

Dalam ayat lain, Al-Quran mengatakan bahwa Tuhan telah menciptakan makhluk hidup untuk saling berpasang-pasangan. Pasang-pasangan di sini, jika menggunakan makna sempit ialah saling mencintai dan kemudian memiliki keluarga—definisi seperti itu, hanya berlaku pada manusia. Namun, jika dimaknai lebih luas, maka segala keserasian yang ada di muka bumi cum semua yang ada di alam semesta, telah Tuhan pasangkan. Maksudnya, alam semesta ini bisa berjalan normal, karena masing-masing bagiannya telah berpasangan dan memiliki porsi yang pas.

Contohnya saja, matahari dan bulan dipasangkan oleh Tuhan untuk menerangi bumi. Matahari di siang hari dan bulan di malam hari. Jika kedua elemen tersebut tidak berfungsi lagi, maka bumi akan mengalami ketidakseimbangan. Bumi akan hancur dan mati. Oleh karenanya sudah benar Tuhan menciptakan manusia dengan segala perbedaan dan warna-warninya. Dan jika ada orang yang menginginkan keseragaman manusia, maka orang itu sangat picek. Ia sungguh tidak tahu menahu bagaimana mekanisme dunia ini berjalan. Jika manusia diseragamkan, maka efek terburuknya ialah kerusakan pada manusia. Manusia akan saling berperang dan akhirnya akan dilanda kematian.

Umumnya, perbedaan yang menyangkut dan sering digembor-gemborkan ialah perbedaan ras, warna kulit, dan agama. Banyak sekali tragedi kemanusiaan terjadi karena beberapa orang atau kelompok, selalu mempermasalahkan perbedaan-perbedaan tersebut. Padahal, itu sudah menjadi hukum alam. Sudah menjadi kehendak Tuhan.

Jika melihat persoalan tragedi kemanusiaan berbasis ras dan agama, perlu didekati dengan perspektif relasi agama dan publik. Karena perbuatan rasisme, selalu berkuncup pada ekonomi, ideologi, dan politik. Uang, value, dan kekuasaan. Suatu kelompok yang mempermasalahkan rasisme, biasanya mereka iri dan menganggap rendah kelompok lain karena uang, kekuasaan yang mapan, atau nilai-nilai (ideologi) yang beda. Atau sebaliknya, mereka yang merendahkan kelompok lain tersebab merasa lebih mulia dan terhormat. Lagi-lagi, potakannya ialah uang, ideologi, dan kekuasaan.

Lihat saja bagaimana warga kulit hitam di Amerika. Mereka diperlakukan rasis dan direndahkan oleh warga kulit putih karena dianggap miskin, terbelakang. Terlebih lagi, warga kulit hitam dulunya adalah bangsa yang dijajah serta diperlakukan sebagai budak oleh bangsa kulit putih. Misal dibalik, jika dulunya warga kulit hitam yang menjajah bangsa kulit putih, maka sampai sekarang warga kulit putih tidak akan berlaku rasis.

Selain uang dan kekuasaan, agama turut menjadi faktor penting dalam suburnya rasisme. Tetapi, kerasisan ini, lebih bertumpu pada iman. Iman menjadi basis utama bagi pemeluk agama, sehingga, ketika seoarang pemeluk agama bertemu dengan pemeluk agama lain, maka akan menganggapnya rendah. Seseorang yang berbeda agamanya akan dicap sesat, kafir, dan berhak masuk neraka. Pernyataan seperti ini, jika tidak diimbangi dengan toleransi agama, maka akan berimbas terhadap perilaku kesewenang-wenangan.

Seabrek kejadian terorisme yang menimpa negeri kita, adalah imbas dari rasisme beragama. Kebanyakan dari golongan teroris adalah pemeluk Islam dengan ideologi yang keras dan saklek. Yang mereka pikirkan, bahwa golongan selain mereka adalah sesat. Pernyataan seperti itu, mereka ambil dari penafsiran terhadap Quran dan Hadis. Tentu, penafsirannya pun sangat subjektif menurut mereka sendiri. Sehingga, ketika mereka melakukan aksi pengeboman, mereka anggap sah dan bahkan hal tersebut akan diganjar surga oleh Tuhan. Mereka tidak merasa berdosa dan bersalah ketika melakukan tindakan keji tersebut. Mindset yang mereka bangun sudah berbeda dengan khalayak umum. Ideologi yang mereka pegang, telah menjadi justifikasi atas perbuatan keji tersebut.

Pada akhirnya, jika pemeluk agama bisa menyerap ajaran agama dengan benar, maka akan menghasilkan perilaku mulia. Agama sendiri ialah sekumpulan ajaran yang menunjukkan hidup mulia. Rasisme, entah yang berbasis agama, warna kulit, ras, atau suku, tidak akan terjadi jika manusia bisa mengamalkan agama dengan benar. Tantangan pemeluk agama, sebenarnya bukan berasal dari pihak luar. Melainkan bagaimana pemeluk agama bisa menyerap dan memahami dengan baik ajaran agama.

*) Dr. Roma Ulinnuha, M.Hum, Dosen Prodi Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
*) Slamet Makhsun, Sekretaris HMPS SAA periode 2020/2021