Mengenal Sastra di Bangku Kuliah

Oleh: Nazela Zain

(Tulisan ini merupakan Notulensi dari webinar Sekolah Literasi #2 HMPS Studi Agama-agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, pada hari Sabtu 17 April 2021, dengan narasumber Khairul Fatah*)

Banyak sekali bentuk-bentuk sastra, alhasil, membuat kita tidak mudah mendapatkan definisi sastra yang benar-benar memuaskan. Namun dengan berjalannya waktu dan juga zaman, membuat definisi sastra banyak bermunculan sehingga memperkaya definisi sastra itu sendiri. Maka dari itu, sebuah sastra akan selalu berkembang dan dinamis dengan perkembangannya, sastra yang bisa terima dan sesuai dengan perkembangan akan tepat mengaktualisasi. Jika sastra tidak dinamis, maka berbanding terbalik dengan tujuan dari sastra itu sendiri.

Secara hakiki, sastra tidak akan pernah lepas dari genggaman manusia. Selama manusia mempunyai perasaan, selama itu pula sastra akan tetap ada. Hanya saja, dalam tiap zaman, sastra memiliki produk, corak, atau bentuk yang berbeda. Dinamika yang di suatu zaman, menjadi penentu utama dalam proses perkembangan sastra.

Sastra adalah hasil rasa yang bersumber kepada keindahan. Sedangkan, karya sastra adalah kata-kata hasil cipta manusia yang memiliki keindahan dan bernilai estetik. Sastra lahir dari sebuah makna hidup, berkembang dan terus ada dalam jiwa manusia. Sastra akan terus beregenerasi berkelindan dengan perkembangan bahasa. Oleh karenanya, perkembangan sastra dalam suatu masyarakat, menjadi tolak ukur bagaimana masyarakat tersebut berbahasa.

Sastra bukan hanya sekumpulan kata-kata saja. Dibalik sastra, banyak ditemui beragam perasaan yang menghanyuti manusia, banyak makna-makna kehidupan yang tersiratkan.

Adanya Ilmu Sastra yang menjadi kajian di kampus-kampus dan berbagai lingkar diskusi, menunjukkan bahwa sastra adalah suatu hal yang penting bagi masyarakat. Tembang-tembang peninggalan nenek moyang, sebut saja seperti macapat, kidung-kidung, serat-serat, atau yang lainnya, menjadi sesuatu yang diwariskan secara turun temurun. Masyarkat sekarang, bisa mengenal leluhurnya barangkali melalui jalan sastra. Misal tidak ada tembang ­ilir-ilir, anak-anak muda zaman sekarang, sedikit yang tahu mengenai Sunan Kalijaga. Sastra telah menjadi perantara dan penghubung antara orang sekarang dengan leluhurnya.

Sebagai akademisi, terkadang kebanyakan dari mahasiswa lebih fokus terhadap mata kuliah yang hanya diajarkan oleh dosen diperkuliahan. Sehingga mereka abai untuk mempelajari apa itu sastra atau memperdalamnya. Padahal sebagai akademis, tentu saja kita tidak luput dari sastra, seperti mengolah kata pada suatu karya maupun tutur kata itu sendiri. Dari sinilah kita harus tau makna arti dari sastra, yaitu bahasa serta tatakrama.

Lalu, jika ada yang bertanya, apakah sebagai mahasiswa Studi Agama-Agama bisa ikut andil dalam sastra tersebut? Jawabannya adalah, Ya. Tentu sangat bisa ikut andil. Karena dalam bangku kuliah, sastra amat berperan dalam mengaktualisasikan suatu karya dari sastra tersebut. Terlebih Studi Agama-Agama memiliki diskursus kajian kitab-kitab dari beragam agama, bilamana hal itu sangat membutuhkan kepekaan sastra dalam mengungkapkan bait demi bait dari maknanya.

*) Nazela Zain, Staf Divisi PSDM, HMPS Studi Agama-Agama periode 2020/2021

*) Khairul Fattah adalah mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga sekaligus sebagai presiden Kutub. Kutub sendiri ialah komunitas yang konsen dalam kajian dan reproduksi sastra.