Melihat Agama lebih Jauh: Agama sebagai Solusi Kesehatan Mental

(Notulensi Diskusi Series batch #2, pada Hari Selasa 30 April 2021 dengan pembicaranya Guru Besar Psikologi Agama UIN Sunan Kalijaga, yakni Prof. Dr. Sekar Ayu Aryani, M.Ag.)
Membicarakan era sekarang, tentu telah banyak terjadi destraksi-destraksi yang menimpa umat manusia. Hal itu pada kelanjutannya, akan mempengaruhi pola hidup sehingga akan berefek kepada kesehatan mentalnya. Sangatlah penting untuk tahu dan paham hal tersebut, karena termasuk upaya dalam mencari dan menjalani kebahagiaan manusia. Bayangkan, jika manusia tidak bahagia dalam hidupnya, terus bagaimana ketika menjawab pertanyaan, “Apa arti hidup? Untuk apa segala umur dan kekayaan yang kamu miliki? Apakah tidak sia-sia jika kamu hidup tapi tidak punya semangat? Terus, hidupmu ini, sebenarnya untuk apa dan dapat apa sih?”
Dalam PPT-nya Prof. Sekar Aryani, dijelaskan bahwa kesehatan mental adalah kondisi dimana terbebas dari segala bentuk gejala-gejala gangguan mental. individu yang sehat secara mental, dapat berfungsi secara normal dalam menjalankan hidup. Khususnya saat menyesuaikan diri untuk menghadapi segala problem yang akan dihadapinya sepanjang hidup dengan menggunakan kemampuan pengelolaan stress.
Sedangkan, menurut WHO, kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan individu yang berupa kemampuan-kemampuan untuk mengelola stress, kehidupan yang wajar, bekerja secara produktif, serta berperan aktif di komunitasnya. Undang-undang negara kita, turut mendefinisikan kesehatan mental, bilamana hal itu tercantum dalam UU No. 3 tahun 1966.
“Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.”
Dalam beberapa pengamatan dari para psikolog, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan mental manusia. Yakni keturunan, trauma masa lalu, pelecehan seksual atau fisik, gaya hidup yang tidak sehat, dan cedera pada otak.
Setidaknya, penyakit yang disebabkan oleh gangguan kesehatan mental terbagi dalam dua macam. Pertama, psikosis. Yaitu kondisi mental yang membuat penderitanya sulit membedakan realitas, misalnya gangguan bipolar, depresi berat, gejala waham atau waswas, dan Skizofrenia. Kedua, non-psikosis. Yakni penderita mengalami gangguan perasan atau memiliki pola pikir yang tidak sesuai dengan hukum atau norma yang berlaku. Penyakit ini biasanya berhubungan erat dengan stres dan trauma. Contohnya seperti anti sosial, gangguan kecemasan, fobia, panik, dan semacamnya.
Diantara cara-cara dalam menjaga kesehatan mental seperti menghargai diri sendiri, selalu melihat sisi positif dari suatu masalah, memperlakukan diri seperti memperlakukan orang yang disayangi, menemukan cara terbaik bagi diri sendiri dalam mengelola stress, mensyukuri semua yang dimiliki, menerapkan pola hidup yang sehat, mengembangkan potensi yang dimiliki, memelihara hubungan yang baik dengan orang lain, melakukan hal-hal yang membuat bahagia, serta berhenti bersikap terlalu perfeksionis.
Lalu, bagaimana cara menemukan solusi kesehatan mental dalam agama?
Salah satu cara yang paling efektif dalam menemukan solusi kesehatan mental dalam agama ialah dengan cara pandang Healty Minded. Yaitu pola pikir yang melihat agama dengan penuh optimisme, harapan dan semangat hidup, serta kegembiraan. Hal itu akan menjadikan pemeluk agama memiliki semangat dan arah tujuannya. Puncaknya, pemeluk agama akan menemukan jati diri, arah, pegangan, dan makna dari kehidupannya. Selain itu, harus hati-hati bagi pemeluk agama ketika menafsiri teks-teks sucinya. Bila hal itu tidak diperhatikan, maka akan mendapatkan kesan yang justru bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental. Istilah ini dalam Psikologi Agama, sering disebut Sick Soul. Yaitu kesan yang diperoleh pemeluk agama, seakan-sekan Tuhan yang disembahnya ialah Tuhan yang pemarah, Tuhan yang selalu mengancam. Secara tak sadar, hal ini akan menyebabkan seseorang dihantui dengan ketakutan dosa yang berlebihan, pesimis, murung, atau pun terlau reflektif mengingat-ingat masa lalu yang kelam.
Dengan cara menjalankan ajaran agama dengan benar, maka pemeluk agama bisa terhindar dari gangguan kesehatan mental tersebut. Banyak diantara ajaran-ajaranya yang bersinggungan langsung dengan dimensi kejiwaan. Yang hal ini berkaitan langsung dengan manajemen stress. Secara otomatis, pemeluk yang benar-benar menjalankan ajaran agama secara kaffah, maka akan mencapai titik puncak kebahagiaan. Dan saat-saat itulah ia bisa terbebas dengan bayang-bayang gangguan atau penyakit kesehatan mental.