CEGAH TANAH LONGSOR DAN BERDAYAKAN EKONOMI WARGA, RIZA WIJIASTUTI, MAHASISWA KKN SAA UIN SUNAN KALIJAGA GANDENG BPDAS SERAYU OPAK PROGO HIJAUKAN DUSUN SIDI

​KULON PROGO - Sebagai langkah konkret mitigasi bencana alam berbasis pemulihan lingkungan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Studi S1 Studi Agama-Agama (SAA) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar aksi penghijauan dan konservasi lahan rawan longsor di Dusun Sidi, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

​Program kerja (proker) tanggap bencana ini diprakarsai oleh mahasiswa SAA UIN Sunan Kalijaga, Riza Wijiastuti, yang berperan sebagai Penanggung Jawab (PJ) Proker. Dalam pelaksanaannya, tim KKN berkolaborasi secara intensif dengan BPDAS (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) Serayu Opak Progo melalui Unit Tahura (Taman Hutan Raya) guna menyediakan ragam bibit pohon konservasi dan multiguna.

​Riza Wijiastuti memaparkan bahwa kondisi topografi Dusun Sidi yang didominasi kawasan pegunungan dengan kemiringan lereng cukup curam menjadikan wilayah ini memiliki kerentanan tinggi terhadap pergerakan tanah, terutama saat intensitas curah hujan tinggi.

​Ancaman bencana ini diperkuat oleh penuturan salah seorang warga lokal, Mbah Sutinem. Beliau menceritakan bahwa musibah tanah longsor bukan sekadar potensi, melainkan ancaman nyata yang sering dialami langsung oleh warga Dusun Sidi. Dulu, peristiwa tanah longsor pernah menerjang kawasan permukiman hingga menimpa kediaman Mbah Sutinem sendiri dan menimbulkan trauma serta kerugian materiil yang membahayakan keselamatan jiwa.

​Guna menanggulangi potensi risiko tersebut, tim KKN menginisiasi pembagian bibit tanaman secara langsung kepada warga dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) agar proses penanaman dapat dilakukan secara mandiri di pekarangan rumah masing-masing, sekaligus menumbuhkan rasa kepedulian dan cinta lingkungan.

​Foto Pembagian Bibit pada Warga

Jenis bibit yang disalurkan dan ditanam mencakup empat varietas dengan fungsi strategis masing-masing:

​Tabebuya: Ditanam di titik-titik lokasi berisiko tinggi. Dalam proses penanamannya, tim KKN menggandeng pemuda Karang Taruna Dusun Sidi untuk bergotong royong menanam bersama. Selain akarnya berfungsi kuat memancangkan struktur tanah di bidang miring rawan longsor, bunganya kelak akan mekar dan memperindah estetika lingkungan desa.

​Sengon Laut: Dibagikan kepada warga yang memiliki hunian di area dataran sangat tinggi dan bidang lereng curam, guna mengikat struktur tanah gembur yang rawan erosi.

​Jambu Biji: Dibagikan kepada anggota KWT dan warga sekitar untuk ditanam di pekarangan rumah. Selain memperkuat vegetasi tanah, buahnya dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan peningkatan gizi keluarga.

​Indigofera: Ditanam di beberapa titik rawan erosi serta dibagikan kepada anggota KWT. Tanaman ini memiliki fungsi ganda sebagai penahan erosi sekaligus sumber pakan ternak berkualitas tinggi bagi hewan ternak warga.

​ "Aksi ini tidak hanya berfokus pada pencegahan erosi dan tanah longsor di area jalan maupun tebing permukiman, tetapi juga mengusung misi pemberdayaan masyarakat. Melalui kolaborasi bersama Karang Taruna dalam aksi tanam serta pelibatan KWT untuk pembagian bibit produktif seperti jambu biji dan indigofera, warga bisa mendapatkan manfaat lingkungan sekaligus dampak ekonomis secara mandiri," tegas Riza.

​Melalui sinergi antara mahasiswa KKN S1 SAA UIN Sunan Kalijaga, BPDAS Serayu Opak Progo, Karang Taruna, KWT, dan partisipasi aktif warga Dusun Sidi, kegiatan ini diharapkan menjadi benteng perlindungan lingkungan jangka panjang yang aman, asri, dan produktif. (RW)