MAHASISWA STUDI AGAMA-AGAMA UIN SUKA, WILDA KHAIRUNNISA, BAWA ISU EKOTEOLOGI DALAM KKN DI DUSUN DRESEL, KOTA BATU
Foto Kegiatan KKN Mahasiswa S1 SAA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Angkatan 120 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang ditempatkan di Dusun Dresel, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, menghadirkan warna berbeda lewat program Sosialisasi Ekoteologi Ternak. Program bertajuk "Pengarusutamaan Ekoteologi Ternak: Membangun Kultur Peternak Sapi Perah Berbasis Ekoteologi" ini digagas oleh Wilda Khairunnisa, mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga, bersama rekan Kuliah Kerja Nyata kelompok Menapaki Batu.
Dusun Dresel dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi perah rakyat di kawasan Malang Raya, ditopang oleh kondisi geografis kaki lereng Gunung Panderman yang subur. Namun di balik potensi ekonominya, relasi peternak dengan hewan ternak dan lingkungan sekitar jarang dibaca lewat kacamata keagamaan, celah inilah yang coba dijembatani lewat program ini.
Program ini pada dasarnya merupakan upaya mempertautkan ajaran keagamaan dengan kesadaran ekologis, agar nilai tersebut tidak berhenti sebagai wacana, melainkan ikut membentuk cara peternak memandang ternak dan lingkungan mereka sehari-hari.
Sebagai mahasiswa Studi Agama-Agama, keterlibatan Wilda dalam program ini bukan tanpa dasar. Ia memang memiliki minat lama pada kajian ekoteologi, termasuk pernah menulis analisis yang menggunakan kerangka pemikiran Hassan Hanafi dan ekofeminisme Vandana Shiva untuk membaca krisis ekologis di Indonesia. Latar itu turut mewarnai cara ia dan tim merancang program di Dresel, dimulai dari survei awal kepada peternak untuk memetakan kondisi umum usaha mereka, sebelum forum sosialisasi digelar pada 4 Agustus 2026.
Dalam forum tersebut, Dr. Moh. Soehadha selaku Dosen Pembimbing Lapangan yang menjadi pemateri pada program kerja ekoteologi ternak ini, memaparkan sejumlah tema besar ekoteologi kepada anggota Kelompok Ternak KUD Dusun Dresel: pemaknaan ternak sebagai amanah dan jalan rezeki, keberlanjutan usaha lintas generasi, kesadaran ekologis dalam pemilihan pakan, hingga dimensi ibadah dalam beternak seperti zakat, sedekah, dan doa. Sebagai bagian dari metode penyampaian, forum berjalan dua arah, bukan sekadar ceramah satu arah dari pemateri.
Kehadiran program Ekoteologi Ternak menunjukkan bagaimana perspektif Studi Agama-Agama dapat berkontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat, tidak hanya mengkaji agama secara tekstual, tetapi juga membacanya sebagai kekuatan yang hidup dalam keseharian masyarakat, termasuk dalam relasi mereka dengan ternak dan lingkungan.