PKL di Gereja Katolik Ganjuran, Mahasiswa Prodi SAA UIN Suka Teliti Asimilasi dan Batas Inkulturasi Budaya Jawa dan Katolik di Gereja Ganjuran
Foto PKL di Gereja katolik Ganjuran
Bantul, pada Mei sd. Juni 2026, sebanyak 8 mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu Marsella Farhah, Aiza, Ayu Purnama, Tiffany Chusna Yaqut Nafis, Destia Nur Mahmuda, Adzik M Arridwan, M Hasyim Fawazi, dan Wahyu, melakukan penelitian lapangan mengenai asimilasi dan batas inkulturasi dalam praktik budaya Jawa dan Katolik di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Sumbermulyo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. PKL ini dibimbingan oleh dosen Khairullah Zikri, S.Ag., MA.St.Rel.
Kegiatan ini merupakan penelitian lapangan yang dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi sebagai bagian dari upaya memahami dinamika identitas religius yang terbentuk dalam proses perjumpaan dua budaya tersebut. Penelitian diawali dengan kunjungan ke kompleks Gereja Ganjuran serta wawancara bersama pihak sekretariat gereja dan Romo Paroki. Dari penelusuran sejarah, diketahui bahwa Gereja Ganjuran didirikan pada tahun 1924 oleh keluarga Schmutzer, seorang pengusaha pabrik gula Gondang Lipuro asal Belanda yang jatuh cinta pada budaya Jawa. Gereja ini resmi berdiri pada 16 April 1927 dan kemudian dilengkapi dengan sebuah candi devosi sebagai ungkapan rasa syukur, yang pembangunannya dimulai pada 26 Desember 1927 dan selesai pada 11 Februari 1930.
Mahasiswa juga menemukan bahwa proses inkulturasi di Gereja Ganjuran tidak berlangsung instan, melainkan melalui pengajuan panjang hingga mendapat persetujuan otoritas Gereja Katolik di Vatikan. Setelah sempat ditolak beberapa kali, praktik inkulturasi ini akhirnya diterima dan bahkan mendapat apresiasi melalui kunjungan delegasi Vatikan untuk meninjau langsung praktik keagamaan di Gereja Ganjuran.
Dalam pemaparannya, Romo Sugi Hartanto selaku Paroki Gereja Ganjuran menjelaskan bahwa perpaduan budaya Jawa dan ajaran Katolik bukanlah bentuk dominasi salah satu pihak, melainkan proses saling melengkapi. Unsur budaya Jawa seperti arsitektur candi, bahasa Jawa dalam liturgi, gestur sembah, musik gamelan, hingga pakaian adat berfungsi sebagai sarana ekspresi iman tanpa menggantikan ajaran Katolik. Bangunan gereja yang mengadopsi gaya joglo serta candi devosi yang mengandung simbol kosmologi Bhur-loka, Bhuwar-loka, dan Swar-loka menjadi bukti nyata penghayatan iman secara kontekstual dalam balutan budaya lokal.
Penelitian ini turut mengungkap bahwa Candi Ganjuran berfungsi sebagai ruang spiritual yang inklusif. Tempat ini tidak hanya digunakan oleh umat Katolik untuk berdoa dan berdevosi, tetapi juga dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai latar belakang agama, termasuk Islam, sebagai titik temu pengalaman religius lintas iman.
Melalui penelitian lapangan ini, mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga menyimpulkan bahwa praktik keagamaan di Gereja Ganjuran merupakan bentuk inkulturasi yang harmonis. Proses asimilasi yang terjadi bukan peleburan budaya yang menghilangkan karakteristik asli, melainkan percampuran melalui interaksi intensif yang menghasilkan praktik kontekstual saling melengkapi, dengan batasan yang jelas bahwa unsur budaya yang diadopsi harus tetap selaras dengan prinsip teologis Katolik. Penelitian kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama pihak sekretariat dan Romo Paroki Gereja Ganjuran. (by PKL 2026 Kelompok 3)