CINTA ALAM IGEDANG INTEGRASI KAJIAN KEAGAMAAN DAN AKSI NYATA, FIGO MARCO DIVAIYO, MAHASISWA KKN 120 UIN SUNAN KALIJAGA DORONG PELESTARIAN HUTAN DESA SIGEDANG
Foto Kegiatan KKN Mahasiswa S1 SAA UIN Suka
Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 120 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar program pelestarian lingkungan bertajuk Kasih Alam Sigedang “Kajian Ekoteologi, Reboisasi Hutan dan Lingkungan Desa Sigedang”. Kegiatan sejak 25 Juli hingga 22 Agustus 2026 ini dilaksanakan di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Program mengombinasikan edukasi keagamaan dan penanaman vegetasi guna menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap ancaman pengundulan hutan setempat.
Langkah ini dilatarbelakangi oleh kondisi kepedulian masyarakat yang perlu ditingkatkan terhadap kelestarian kawasan sekitar, khususnya hutan desa. Untuk mengatasi masalah pembukaan lahan secara terus menerus, mahasiswa KKN merancang strategi yang memadukan 50 persen literasi keilmuan serta 50 persen aksi nyata. Pendekatan literasi dilakukan melalui kajian berbasis religiusitas, sains, dan humaniora, yang diintegrasikan langsung dengan aksi penanaman bibit di pemukiman warga serta kawasan hutan.
.
Rangkaian kegiatan diawali pada 25 Juli 2026 melalui pelaksanaan Kajian Ekoteologi 1 di TPQ Masjid Al-Amin Desa Sigedang. Sebanyak kurang lebih 20 santri tingkat TK, SD, hingga SMP mengikuti kegiatan ini. Sesi ini membekali anak-anak dengan pemahaman hadits mengenai kewajiban menjaga alam sebagai amanah manusia sebagai khalifah fil ardi atau pemimpin di bumi. Sesi ditutup dengan pemaparan tindakan yang tergolong halal dan haram dalam perlakuan manusia terhadap alam. Pendidikan mencintai alam ditanamkan sejak dini melalui pendekatan keagamaan agar nilai konservasi melekat pada karakter santri.
Selanjutnya, pada 22 Agustus 2026, digelar Kajian Ekoteologi 2 bersama kelompok Ibu-Ibu Dasa Wisma (Dawis) Gang Selasa yang dihadiri lebih dari 25 peserta. Mahasiswa memberikan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah dapur melalui lubang resapan biopori serta pemanfaatan tanaman pucuk merah untuk pelestarian lingkungan pemukiman. Melalui kegiatan ini, anggota Dawis mendapatkan pemahaman teknis mengenai pentingnya menjaga kualitas tanah dan lingkungan pemukiman.
Selain edukasi teori, penanaman vegetasi dilakukan secara bertahap di Desa Sigedang. Pada 20 hingga 22 Agustus 2026, mahasiswa membagikan dan menanam bibit pucuk merah di lingkungan pemukiman. Distribusi dilakukan meliputi Gang Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, serta Dusun Sikatok. Setiap gang dan dusun diwakili oleh 1 ketua RT, sehingga 7 perwakilan RT dan 1 dusun berpartisipasi. Masing-masing wilayah menerima dua bibit pucuk merah yang ditanam di kebun gang dan halaman rumah warga sebagai percontohan pelestarian lingkungan mandiri.
Foto atas “penanaman bibit buah di hutan desa sigedang”, foto bawah “penanaman tanaman pucuk merah dilingkungan desa sigedang”
Sebagai puncak, aksi penanaman skala besar dilaksanakan pada 13 Agustus 2026 di kawasan hutan belakang desa, yaitu Hutan Siroto. Kegiatan berfokus pada reboisasi menggunakan bibit tanaman buah, seperti jambu jamaica, alpukat aligator, dan mangga. Penanaman bibit buah melibatkan 10 mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga dan 5 anggota Komunitas Pecinta Alam "Kewono". Kehadiran bibit pohon buah di Hutan Siroto ditujukan sebagai proyek percontohan awal bagi warga dalam menjaga ekosistem hutan, memulihkan keanekaragaman flora, serta menjamin keberlangsungan rantai makanan bagi fauna lokal.
Program penanaman bibit buah mendapat tanggapan positif dari komunitas lokal. Ketua Komunitas Peduli Alam "Kewono", Mas Heri, menyampaikan pandangannya terkait manfaat jangka panjang dari vegetasi yang ditanam di Hutan Siroto.
"Program ini bagus untuk keberlanjutan satwa sehingga ketika pohon sudah besar biasa dibuat makan monyet atau satwa lainnya," ujar Mas Heri di sela-sela aksi penanaman.
Secara keseluruhan, program Kasih Alam Sigedang mencatatkan sejumlah hasil nyata. Dari sektor pendidikan dasar, santri TPQ Masjid Al-Amin tidak hanya mampu menghafal hadits tentang lingkungan, tetapi juga memahami batasan hukum Islam terkait tindakan manusia terhadap alam. Landasan hadits yang diajarkan merujuk pada riwayat Bukhari:
"Tidaklah seorang muslim pun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, atau manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya."
Dari aspek kemasyarakatan, warga di tingkat RT dan kelompok Dawis mulai menerapkan pemilahan sampah dapur dengan biopori serta memanfaatkan pekarangan rumah untuk penghijauan. Sementara di Hutan Siroto, penanaman pohon buah diproyeksikan menambah variasi tanaman hutan sekaligus menyediakan pasokan pakan alami bagi satwa liar.
Inisiatif mahasiswa KKN 120 UIN Sunan Kalijaga ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini berkaitan dengan SDGs Poin 15 (Ekosistem Daratan) melalui reboisasi hutan desa, SDGs Poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim) lewat penambahan tutupan hijau, serta SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui literasi ekoteologi. Selain itu, penggunaan biopori mendukung SDGs Poin 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), sementara kolaborasi bersama warga dan Komunitas Kewono mencerminkan penerapan SDGs Poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui integrasi pemahaman keagamaan dan aksi fisik ini, program Kasih Alam Sigedang diharapkan memberikan dampak berkesinambungan. Pemahaman dalil agama mengenai lingkungan diharapkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari warga agar memiliki jiwa saling memiliki terhadap alam. Aksi penanaman bibit pucuk merah dan pohon buah diharapkan memicu kesadaran warga Desa Sigedang untuk merawat lingkungan secara mandiri, dimulai dari pekarangan rumah hingga menjaga keutuhan kawasan Hutan Siroto.