PKL di Makam Ki Ageng Wonolelo Sleman, Mahasiswa S1 SAA UIN Sunan Kalijaga Teliti Makna Simbolik Tradisi Saparan

Yogyakarta, selama Mei-Juni 2026 sebanyak 8 mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu Nisa Awalia Agustin, Rahmatul Mufidah, Masrur, Ardeka Tribowo, Aquilla Nur Adiba, Salwa, Linuwih Prihartanto, dan Ninik Dewi Sunarywati N, melakukan penelitian lapangan mengenai Tradisi Saparan di Makam Ki Ageng Wonolelo, Dusun Pondok Wonolelo, Widodomartani, Sleman. PKL ini dibimbingan oleh dosen Khairullah Zikri, S.Ag., MA.St.Rel.

Kegiatan ini merupakan penelitian lapangan yang telah dilakukan selama dua bulan, mulai dari bulan April hingga Juni 2026 sebagai bagian dari pengumpulan data untuk memahami sejarah, makna, serta nilai-nilai religius dan budaya yang terkandung dalam tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat hingga saat ini. Penelitian diawali dengan kunjungan ke kompleks Makam Ki Ageng Wonolelo dan wawancara bersama juru kunci makam serta trah wonolelo. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa Tradisi Saparan merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Wonolelo yang dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam sekaligus pembuka wilayah di daerah tersebut. Tradisi ini juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenang jasa para leluhur dan mempererat hubungan sosial antarwarga.

Selain menggali sejarah tradisi, mahasiswa juga memperoleh penjelasan mengenai berbagai simbol yang digunakan dalam pelaksanaan Saparan. Salah satu simbol yang paling menonjol adalah gunungan apem. Menurut penjelasan yang diperoleh selama penelitian, apem dipercaya berasal dari kata "afuwwun" yang berarti ampunan, sehingga menjadi simbol permohonan maaf dan harapan memperoleh pengampunan dari Tuhan. Selain itu, terdapat tumpeng robyong yang melambangkan kesejahteraan, kemakmuran, dan kesuburan bagi masyarakat.

Dalam pemaparannya juga dijelaskan mengenai rangkaian pelaksanaan Tradisi Saparan yang diawali dengan kegiatan di masjid berupa pembukaan acara dan doa bersama. Setelah itu, masyarakat mengadakan kirab pusaka dengan membawa berbagai benda peninggalan Ki Ageng Wonolelo, seperti Al-Qur’an kuno, tongkat, kopiah, dan pakaian yang memiliki nilai sejarah. Arak-arakan tersebut kemudian menuju kompleks makam sebagai pusat pelaksanaan ritual.

Setibanya di makam, masyarakat melaksanakan doa bersama dan tahlil sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Wonolelo. Ritual tersebut dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghargaan terhadap jasa para leluhur. Puncak acara ditandai dengan pembagian apem kepada masyarakat yang hadir. Momen ini selalu menarik perhatian warga karena apem dipercaya membawa keberkahan.

Pada malam hari, perayaan Saparan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan fragmen cerita yang mengisahkan perjuangan Ki Ageng Wonolelo dalam menyebarkan ajaran Islam dan membangun wilayah tersebut. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi media edukasi untuk memperkenalkan sejarah dan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Melalui penelitian lapangan ini, mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga menyimpulkan bahwa Tradisi Saparan di Makam Ki Ageng Wonolelo tidak hanya berfungsi sebagai ritual tahunan, tetapi juga menjadi simbol perpaduan antara ajaran Islam dan budaya Jawa yang hidup dalam masyarakat. Keberlangsungan tradisi ini menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern serta menjadi sarana untuk memperkuat identitas budaya, menjaga nilai-nilai religius, dan mempererat solidaritas sosial masyarakat setempat. Penelitian kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama juru kunci dan trah Wonolelo. (by PKL 2026 Kelompok 3)