KESEHATAN MENTAL DI SEMINARI TINGGI ST. PAULUS KENTUNGAN, YOGYAKARTA (IMPLEMENTASI XI KERJA SAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026)

Yogyakarta – Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kembali mengadakan kegiatan dialog dan pembelajaran lintas iman pada Sabtu, 23 Mei 2026 bertempat di Fakultas Teologi Wedabhakti (FTW) Universitas Sanata Dharma yang terletak di sebelah Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi, diantaranya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) serta kerjasama dengan Interfidei Yogyakarta.

Sebelum memasuki sesi utama, peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan lingkungan serta sejarah singkat Universitas Sanata Dharma dan Fakultas Teologi Wedabhakti. Dalam pengenalan tersebut peserta diajak memahami nilai-nilai pendidikan humanis yang dikembangkan oleh Universitas Sanata Dharma khususnya dalam membangun dialog, kemanusiaan, serta keterbukaan antarumat beragama.

Materi utama disampaikan oleh ibu Benedicta Herlina Widiastuti yang merupakan Magister Psikologi Universitas Surabaya sekaligus konselor dalam persoalan trauma, seksualitas, dan hubungan romantis. Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami bahwa kesehatan mental bukan hanya sebatas definisi teoritis, melainkan sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari yang mana juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mengenali dirinya sendiri.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai “apa itu kesehatan mental”, peserta terlebih dahulu diajak berefleksi tentang alasan mereka kenapa hadir dalam kegiatan tersebut, bagaimana mereka memandang diri sendiri, serta sesuatu apa yang sebenarnya sedang dirasakan dalam hidup seseorang. Melalui refleksi tersebut, para peserta diajak menyadari bahwa memahami diri sendiri merupakan langkah awal yang cukup baik untuk menjaga kesehatan mental.

Narasumber juga menjelaskan bahwa kesehatan mental seringkali dipengaruhi oleh pikiran seseorang terhadap dirinya sendiri. Peserta diajak belajar merasa bahwa diri mereka “cukup baik” sebab dengan begitu seseorang dapat lebih belajar bersyukur dan tidak terus-menerus terjebak dalam pertanyaan seperti “aku kurang apa?” atau “aku salah apa?”. Menurut pemateri, banyak hal dalam hidup yang sebenarnya berpusat pada cara pandang seseorang dalam menghadapi suatu persoalan. Selain itu, peserta juga diajak untuk memahami bahwa setiap manusia memiliki kebijaksanaan masing-masing yang pada dasarnya semua baik. Perbedaan cara berpikir tidak berarti salah, melainkan bergantung pada bagaimana seseorang memandang dan menyikapi suatu hal agar tidak berkembang menjadi beban dalam dirinya.

Kegiatan berlangsung dengan suasana hangat, reflektif, dan interaktif. Peserta aktif mengikuti sesi diskusi tentang berbagai pandangan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang belajar bersama, tetapi sekaligus menajadi ruang untuk mendengarkan satu sama lain serta memahami pengalaman setiap orang dengan open minded (terbuka). Setelah sesi pematerian selesai, kegiatan dilanjutkan sekaligus ditutup dengan ziarah ke makam Romo Y.B. Mangunwijaya dalam suasana hening dan penuh penghormatan peserta diajak mengenang nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan pemikiran Romo Mangun yang masih terus hidup abadi dalam setiap karya dan perjuangannya hingga saat ini.

Melalui kegiatan ini, peserta Sekolah Lintas Iman diharapkan mampu membangun kesadaran lebih untuk mampu mengenal diri sendiri, menjaga kesehatan mentalnya, serta memperkuat nilai dialog dan kemanusiaan khususnya dalam aspek toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini berlangsung dengan sangat seru dan hangat, juga memberikan pengalaman baru bagi peserta agar lebih belajar memahami diri, dengan begitu seseorang akan bahagia maka kesehatan mental pun terjaga. Kemudian kegiatan ditutup dengan sesi foto dan doa bersama.