KULIAH LAPANGAN AGAMA BUDDHA DI VIHARA KARANGDJATI SLEMAN D.I. YOGYAKARTA
Foto Bersama Pimpinan Vihara Karangdjati
Kegiatan pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Hal inilah yang tercermin dalam kunjungan akademik yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke Vihara Karangdjati pada 28 April 2026. Berlokasi di kawasan Mlati, Sleman, kegiatan ini menjadi bagian dari Mata Kuliah Agama Buddha yang bertujuan memperluas pemahaman mahasiswa melalui pengalaman langsung di lapangan.
Sejak tiba di lokasi, rombongan mahasiswa semester 4 bersama dosen pengampu, Derry Ahmad Rizal, M.A., disambut dengan hangat oleh para tokoh vihara. Suasana penuh keakraban langsung terasa ketika Romo Totok, Upi Dharma Susanti, serta Bhikkhu Pia menyapa dan membuka ruang dialog. Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang belajar interaktif yang mempertemukan teori dengan praktik kehidupan beragama.
Dalam sesi pemaparan, Bhikkhu Pia menjelaskan tentang pentingnya Pañcasīla atau lima prinsip moral dalam ajaran Buddha. Nilai-nilai tersebut meliputi larangan membunuh, mencuri, berbuat asusila, berkata tidak benar, serta mengonsumsi minuman yang dapat melemahkan kesadaran. Penjelasan ini memberikan gambaran konkret mengenai bagaimana etika menjadi fondasi utama dalam kehidupan umat Buddha sehari-hari.
Selanjutnya, Romo Totok menguraikan konsep dasar ajaran Buddha yang berpusat pada pencapaian pencerahan atau Nirwana. Ia menekankan pentingnya memahami Empat Kebenaran Mulia, hukum karma, serta proses pembinaan batin melalui etika dan meditasi. Penjelasan tersebut memperkaya wawasan mahasiswa mengenai bagaimana ajaran Buddha tidak hanya bersifat filosofis, tetapi juga aplikatif dalam kehidupan.
Tidak kalah menarik, Upi Dharma Susanti memaparkan tentang tiga akar kejahatan dalam Buddhisme, khususnya lobha (keserakahan) dan dosa (kebencian). Ia menjelaskan bagaimana kedua hal tersebut menjadi sumber utama penderitaan manusia dan bagaimana pengendalian diri menjadi kunci dalam menghindari tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Materi ini membuka ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami dinamika batin manusia dari perspektif Buddhis.
Kegiatan kunjungan ini berlangsung dengan penuh antusiasme, terlihat dari interaksi aktif antara mahasiswa dan narasumber dalam sesi diskusi. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman empiris yang memperdalam cara pandang mereka terhadap keberagaman praktik keagamaan di Indonesia.
Sebagai penutup, kegiatan ini dapat disimpulkan sebagai bentuk pembelajaran kontekstual yang sangat relevan dalam studi agama-agama. Kunjungan ke Vihara Karangdjati tidak hanya menambah pengetahuan akademik mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan sikap toleransi, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam memahami pluralitas kehidupan beragama. (By Annisa Mundari Fajriani)