KERJASAMA UIN-UKDW-USD-INTERFIDEI: SEKOLAH LINTAS IMAN (SLI) ANGKATAN VXII DIBUKA KEMBALI PADA 14 FEBRUARI 2026
foto pembukaan SLI angakatan XVII
Sabtu, 14 Februari 2026 telah dibuka kembali Sekolah Lintas Iman (SLI) Angkatan XVII di kantor Institut DIAN/Interfidei, Yogyakarta. SLI merupakan implementasi dari kerja sama atau MoU antara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, dan Institut DIAN/Interfidei, Yogyakarta. MoU antar empat lembaga pendidikan ini ditandatangi pada 15 Februari 2025 di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kegiatan tersebut diikuti oleh delapan mahasiswa Program Studi Ushuluddin dan Pemikiran Islam angkatan semester enam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yakni Masrur, Dita Aulia Putri, Linuwih Prihartanto, Ayu Purnamasari, Alfin Innayaturrofiqoh, Ibnu Qayyum Al-Furqaan, Natasya Anggita Putri Zahrani, dan M. Humaidi. SLI angkatan kali ini mengangkat tema "Kesehatan Mental, Tantangan Hidup Berkeluarga, Beragama, dan Bermasyarakat di Era Teknologi Modern". Selain mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta dari Universitas Sanata Dharma, Universitas Kristen Duta Wacana, serta sejumlah mahasiswa dari kelompok penghayat kepercayaan. Keberagaman latar belakang peserta tersebut mencerminkan komitmen kolektif dalam membangun ruang dialog yang inklusif dan transformatif.
Acara diawali dengan sesi pembukaan yang menekankan pentingnya kesehatan mental sebagai isu lintas sektor yang mencakup dimensi keluarga, kehidupan keberagamaan, dan relasi sosial di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dalam pidato pembukaan, Panitia dan Tim Fasilitator menyampaikan bahwa era digital membawa berbagai peluang sekaligus tantangan, di antaranya disrupsi komunikasi, polarisasi identitas keagamaan di platform media sosial, serta tekanan psikososial yang berpotensi menurunkan kualitas hubungan antarindividu. Sehubungan dengan hal tersebut, Sekolah Lintas Iman (SLI) Angkatan XVII dirancang sebagai ruang refleksi kritis untuk merespons realitas tersebut secara dialogis dan konstruktif.
Sesi berikutnya meliputi presentasi mengenai profil Interfidei serta historique Program SLI, khususnya SLI XVII. Pemutaran film dokumenter berjudul "20 Tahun Interfidei" memberikan perspektif komprehensif mengenai perjalanan lembaga tersebut dalam mengadvokasi dialog antariman, kebebasan beragama, dan penguatan masyarakat sipil. Melalui sesi ini, peserta, tim fasilitator, serta panitia memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai visi, misi, dan kerangka nilai yang mendasari implementasi program, sehingga proses pembelajaran memiliki landasan ideologis dan metodologis yang kokoh.
Setelah sesi break/istirahat kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan antarpeserta yang dirancang untuk membangun suasana saling percaya, saling menghormati, dan menghargai perbedaan. Dalam dinamika kelompok, peserta didorong untuk mengartikulasikan latar belakang identitas, pengalaman keberagamaan, serta pandangan mereka terkait isu kesehatan mental dan tantangan kehidupan keluarga di era digital. Proses ini bertujuan menumbuhkan toleransi aktif yang tidak berhenti pada pengakuan atas perbedaan, tetapi juga mendorong sikap kritis dan kreatif dalam mengelola keberagaman.
Setelah pelaksanaan tahap orientasi, kegiatan dilanjutkan dengan proses pembagian kelompok yang disertai diskusi berbasis prinsip pemerataan latar belakang peserta dari beragam kalangan. Pembentukan kelompok secara heterogen tersebut dirancang untuk mendorong terjadinya perjumpaan perspektif yang lebih intensif, sehingga dialog lintas iman dapat berkembang secara lebih mendalam, kritis, dan reflektif. Dalam sesi ini, fasilitator juga memaparkan kerangka kurikulum, pendekatan partisipatif yang digunakan, serta capaian pembelajaran yang ditargetkan, terutama dalam upaya memperkuat ketahanan mental, menumbuhkan empati sosial, dan meningkatkan kapasitas resolusi konflik di tengah kompleksitas tantangan kehidupan keluarga dan masyarakat.
Kegiatan inti pada hari pembukaan ditutup dengan sesi “Udar Prasangka, Stereotipe, dan Klaim Kebenaran” yang menjadi fondasi epistemologis Sekolah Lintas Iman. Dalam sesi ini, peserta diajak mengidentifikasi dan mengurai prasangka yang kerap muncul baik dalam relasi antaragama maupun intraagama, termasuk yang diperkuat oleh narasi digital dan media sosial. Melalui pendekatan reflektif-dialogis, peserta diharapkan mampu mengembangkan kesadaran kritis serta paradigma keberagamaan yang inklusif dan berorientasi pada kesehatan mental kolektif. Kegiatan diakhiri dengan dokumentasi foto bersama sebagai simbol komitmen bersama untuk menempuh proses pembelajaran lintas iman secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.