PEMBINAAN KESEHATAN MENTAL BERSAMA KOMUNITAS HARE KRISHNA (IMPLEMENTASI X KERJA SAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026)

PEMBINAAN KESEHATAN MENTAL BERSAMA KOMUNITAS HARE KRISHNA (IMPLEMENTASI X KERJA SAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026)

Yogyakarta - Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Sanata Dharma, dan Interfidei kembali mengadakan kegiatan dialog dan pembelajaran mengenai ajaran spiritual Hindu Hare Krishna, khususnya terkait kesehatan mental dan pendekatan spiritual dalam kehidupan sehari-hari, di Naraya Smerti Asram pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 09.00–12.00 WIB.

Kegiatan ini dihadiri oleh anggota komunitas Hare Krishna serta peserta Sekolah Lintas Iman XVII, termasuk 8 mahasiswa S1 Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi pengenalan mengenai komunitas Hindu Hare Krishna dan Naraya Smerti Asram sebagai tempat pembelajaran spiritual. Naraya Smerti Asram dijelaskan sebagai tempat untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pembelajaran rohani, pelayanan, dan praktik spiritual sehari-hari.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa Weda memiliki arti sebagai pengetahuan suci. Dalam ajaran Weda, pengetahuan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bentuk dan isi. Bentuk pengetahuan terdiri dari sruti dan smerti, sedangkan isi pengetahuan dalam Weda terdiri dari aparavidya dan paravidya. Komunitas Hare Krishna juga menekankan bahwa Tuhan itu satu, yaitu Krishna, yang dipahami sebagai “Yang Maha Menarik” karena memiliki sifat penuh kasih, kebijaksanaan, dan keindahan spiritual yang mampu menarik hati setiap makhluk hidup.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai cara bersembahyang dalam tradisi Hare Krishna, termasuk praktik meditasi mantra atau pengucapan maha mantra Hare Krishna, yaitu “Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare.” Menurut narasumber, pengulangan mantra tersebut bertujuan untuk menenangkan pikiran, membersihkan hati, dan membantu manusia mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga memperoleh ketenangan batin.

Dalam materi kesehatan mental, komunitas Hare Krishna menekankan pentingnya mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai cara menjaga keseimbangan jiwa dan pikiran. Menurut narasumber, ketika seseorang semakin dekat dengan Tuhan, maka batinnya akan menjadi lebih tenang, damai, dan sehat. Mereka juga menjelaskan konsep “darshana,” yaitu cara manusia memandang dan kembali kepada Tuhan melalui perubahan cara pandang hidup. Manusia dipahami memiliki unsur badan jasmani yang tersusun dari api, air, angin, dan tanah sebagai bagian dari unsur alam semesta.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif dan interaktif. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan, seperti konsep ketuhanan dalam Hare Krishna, perbedaan praktik Hindu Hare Krishna dengan Hindu di Bali maupun India, serta konsep reinkarnasi dalam ajaran mereka. Narasumber menjelaskan bahwa meskipun terdapat perbedaan budaya dan praktik ibadah di berbagai daerah, inti ajaran Hindu tetap sama, yaitu mengajarkan manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan hidup selaras dengan dharma atau kebenaran. Mengenai reinkarnasi, dijelaskan bahwa jiwa akan terus mengalami kelahiran kembali sesuai dengan karma dan perjalanan spiritualnya hingga mencapai pembebasan dan kembali kepada Tuhan.

Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan. Melalui Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII, peserta diharapkan mampu memahami keberagaman tradisi keagamaan secara lebih mendalam, memperkuat sikap toleransi, serta menyadari pentingnya kesehatan mental melalui pendekatan spiritual dan hubungan manusia dengan Tuhan. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan sesi foto sebagai penutup rangkaian kegiatan Sekolah Lintas Iman XVII.