PEMBINAAN KESEHATAN MENTAL DI PANTI 3 YAYASAN SAYAP IBU CABANG YOGYAKARTA (IMPLEMENTASI VIII KERJASAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026)
Foto Bersama Narsumber, Fasilitator dan Peserta SLI
Pada Sabtu, 02 Mei 2026 pukul 08.00–16.00 WIB, Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kerjasama UIN Suka-UKDW-USD dan Interfidei mengimplementasikan kerja sama ke-8 di tahun 2026 ini bertempat di Panti 3 Yayasan Sayap Ibu Cabang Yogyakarta. Kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan pendekatan akademik dan pengalaman empiris, khususnya dalam memahami isu-isu sosial kemanusiaan dari perspektif lintas iman. Kehadiran peserta dari latar belakang yang beragam turut memperkuat karakter dialogis dan inklusif dalam kegiatan ini.
Kegiatan ini diikuti oleh delapan mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta semester enam, yakni Masrur, Dita Aulia Putri, Linuwih Prihartanto, Ayu Purnamasari, Alfin Innayaturrofiqoh, Ibnu Qayyum Al-Furqaan, Natasya Anggita Putri Zahrani, dan M. Humaidi. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan peserta umum dari berbagai latar belakang kepercayaan, sehingga menciptakan ruang belajar yang kolaboratif dan memperkaya perspektif intersubjektif antar peserta.
Jalannya kegiatan dimoderatori oleh Ibu Anis Farhatin, M.Pd., yang memfasilitasi diskusi secara sistematis dan partisipatif. Sementara itu, pemaparan materi utama disampaikan oleh Bapak Feri selaku pemimpin dan pembina di panti tersebut. Dalam penyampaiannya, beliau menguraikan pengalaman panjangnya sebagai praktisi sosial sekaligus alumnus Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan kalijaga tahun 1997, yang memberikan landasan reflektif bagi peserta dalam memahami praktik pendampingan terhadap kelompok rentan.
Secara substantif, kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama, yakni meningkatkan pemahaman peserta terhadap kerentanan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari, memberikan wawasan mengenai dinamika kesehatan mental yang dialami oleh penyandang disabilitas beserta para pembinanya, serta memperkenalkan pengalaman praktis dalam menangani persoalan kesehatan mental di lingkungan panti. Ketiga tujuan tersebut dirumuskan untuk mendorong lahirnya kesadaran kritis dan empati sosial yang berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Pada sesi diskusi dan tanya jawab, para peserta dan fasilitator terlibat aktif dalam mengemukakan pandangan, pertanyaan, serta refleksi kritis terkait materi yang disampaikan. Diskursus yang berkembang menunjukkan adanya pertukaran pengetahuan yang konstruktif, khususnya dalam mengaitkan teori-teori sosial-keagamaan dengan realitas empiris di lapangan. Interaksi ini menjadi ruang penting dalam membangun pemahaman lintas perspektif yang lebih komprehensif.
Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tour room di lingkungan panti yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengamati secara langsung fasilitas dan aktivitas keseharian di Panti 3 Yayasan Sayap Ibu Cabang Yogyakarta. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan dokumentasi kegiatan. Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai medium pembentukan kesadaran sosial, empati, dan komitmen terhadap nilai-nilai inklusivitas dalam kehidupan bermasyarakat (By Linuwih Prihartanto)