PEMBINAAN KESEHATAN MENTAL DI PONDOK PESANTREN (IMPLEMENTASI VII KERJASAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026)
Pertemuan Lintas Iman ke-7 di Ponpes Sunan Pandanaran
Yogyakarta. Sabtu, 25 April 2026, Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kerjasama UIN Suka-UKDW-USD dan Interfidei mengimplementasikan kerja sama ke-6 di tahun 2026 ini dengan tema “Pembinaan Kesehatan Mental di Pondok Pesantrean”. Kegiatan kerjasama kali ini bertempat di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta, baik secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh delapan mahasiswa Program Studi S1 Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam angkatan semester keenam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yakni Masrur, Dita Aulia Putri, Linuwih Prihartanto, Ayu Purnamasari, Alfin Innayaturrofiqoh, Ibnu Qayyum Al-Furqaan, Natasya Anggita Putri Zahrani, dan M. Humaidi, serta peserta umum lainnya dari berbagai latar belakang kepercayaan.
Pelaksanaan kegiatan di lingkungan pesantren memberikan nuansa yang berbeda, di mana interaksi antara peserta lintas iman dengan kehidupan santri menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan dekat dengan realitas kehidupan keagamaan sehari-hari. Adapun tema yang diangkat dalam kegiatan ini berfokus pada kesehatan mental, khususnya dalam kaitannya dengan bagaimana pondok pesantren membentuk kesehatan mental bagi para santri di lingkungan spiritualitas pondok pesantren.
Penyelenggaraan kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran para peserta, yang sebagian besar merupakan calon pemimpin agama dari beragam latar belakang, agar mampu memahami persoalan kesehatan mental yang semakin marak terjadi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dalam konteks kehidupan mondok di pesantren, isu ini menjadi semakin relevan karena santri hidup dalam sistem yang terstruktur, jauh dari keluarga, serta berada dalam lingkungan sosial yang memiliki dinamika tersendiri. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep kesehatan mental secara teoritis, tetapi juga mampu membaca realitas sosial yang terjadi di sekitar mereka, sekaligus menemukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah, menghadapi, dan membantu mengatasi persoalan tersebut secara bijaksana dan empatik dalam peran mereka sebagai calon pemimpin agama.
Acara berlangsung sejak pukul 09.00 WIB, diawali dengan pembukaan dan doa yang dipimpin oleh salah satu peserta bernama Masrur Dimas yang berasal dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Acara dilanjutkan dengan sesi penyampaian latar belakang atau profil dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran oleh staf atau pengurus dari pondok pesantren tersebut. Suasana terasa kondusif dan aktif. Para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, terlihat dari keterlibatan mereka dalam menyimak materi dan mengajukan beberapa pertanyaan terkait isu kesehatan mental para santri di lingkungan pondok pesantren.
Selama sesi diskusi, suasana kegiatan menjadi semakin hidup dengan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Beberapa di antaranya mengangkat pengalaman nyata tentang apa yang mereka temui di lingkungan masyarakat, seperti bagaimana menghadapi stigma terhadap individu dengan gangguan mental, serta bagaimana peran lingkungan, termasuk kehidupan komunal di pondok pesantren, dalam memengaruhi psikologis seseorang. Salah seorang alumni pondok pesantren Sunan Pandanaran yang kebetulan juga hadir dalam acara tersebut berpendapat dalam diskusi ini bahwa isu kesehatan mental bukan hanya persoalan individu, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur dan budaya yang melingkupinya. Selain itu, pada sudut pandang mengenai kesehatan mental di pondok pesantren, hal ini juga erat kaitannya dengan bagaimana kegiatan-kegiatan spiritual turut menjaga kestabilan mental seseorang.
Melalui kegiatan Stadium Generale yang diselenggarakan oleh program SLI XVII ini, para peserta diajak untuk menyadari bahwa kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesejahteraan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga, masyarakat, maupun komunitas keagamaan. Dalam konteks pesantren, kesadaran ini menjadi penting untuk membangun lingkungan yang tidak hanya menekankan aspek kedisiplinan dan spiritualitas, tetapi juga memberikan ruang bagi individu untuk tumbuh secara emosional dan psikologis. Para peserta diharapkan mampu menjadi calon pemimpin agama yang tidak hanya kuat secara teologis tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan empati terhadap pergumulan batin yang dialami oleh banyak orang (by Humaidi).