KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN KESEHATAN MENTAL (IMPLEMENTASI VI KERJASAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026)
Foto Bersama Narasumber, Panitia dan Peserta
Yogyakarta, Sabtu, 18 April 2026, Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kerjasama UIN Suka-UKDW-USD dan Interfidei mengimplementasikan kerja sama ke-6 di tahun 2026 ini dengan tema “Kekerasan berbasis Gender dan Kesehatan Mental”. Pelaksanaan SLI kali ini bertempat di Rifka Annisa Women’s Crisis Center (WCC), sebuah lembaga aspirasi masyarakat yang aktif dalam advokasi dan sosialisasi isu-isu gender. Kegiatan ini mengangkat tema “Kekerasan Berbasis Gender dan Kesehatan Mental”, dengan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang kampus dan kepercayaan, yang bersama-sama membangun ruang dialog lintas iman yang inklusif dan reflektif.
Pertemuan kali ini dibuka dengan pengantar dari tim fasilitator Rifka Annisa yang memberikan gambaran umum mengenai pentingnya memahami perbedaan antara seks (jenis kelamin biologis) dan gender (konstruksi sosial budaya). Sesi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Indah Wahyu Andari, S. Psi., selaku Direktur Rifka Annisa WCC. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa gender bukanlah sesuatu yang kodrati, melainkan hasil konstruksi sosial yang terus dibentuk melalui proses sosialisasi di masyarakat. Ia juga menjelaskan bagaimana peran, atribut, beban, dan status gender seringkali menciptakan ketimpangan yang berujung pada ketidakadilan, bahkan kekerasan berbasis gender. Materi disampaikan secara sistematis dengan mengulas proses sosialisasi gender, hirarki gender dalam masyarakat, serta bagaimana relasi kuasa dan privilese memengaruhi posisi individu dalam kehidupan sosial. Indah juga memaparkan berbagai bentuk ketidakadilan gender, seperti marginalisasi, subordinasi, stereotip, hingga kekerasan, yang kerap dialami terutama oleh perempuan. Ia menegaskan bahwa kekerasan berbasis gender tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi korban.
Dalam sesi diskusi, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis, mulai dari akar budaya patriarki hingga bagaimana cara membangun relasi yang setara dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi ini memperlihatkan kesadaran peserta akan pentingnya membongkar konstruksi sosial yang tidak adil, serta keinginan untuk menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih inklusif. Memasuki sesi refleksi, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan pengalaman dan pandangan mereka terkait isu gender dalam kehidupan sehari-hari. Hasil refleksi yang disampaikan menunjukkan bahwa banyak peserta menyadari adanya ketidakadilan gender yang selama ini dianggap sebagai hal yang “biasa”. Beberapa peserta mengungkapkan bahwa rasa takut, pembatasan ruang gerak, hingga beban ganda dalam kehidupan domestik merupakan realitas yang sering dialami, khususnya oleh perempuan.
Dalam tanggapannya, Indah Wahyu Andari menyampaikan bahwa kesadaran adalah langkah awal untuk perubahan. Ia menegaskan bahwa ketidakadilan gender bukanlah takdir, melainkan sesuatu yang bisa diubah melalui pendidikan, dialog, dan keberanian untuk bersuara. Ia juga mengajak peserta untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan membangun relasi yang adil dan saling menghargai. Pertemuan ini ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh kehangatan, sebagai simbol kebersamaan dan komitmen bersama untuk terus belajar dan memperjuangkan keadilan gender. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang refleksi yang memperkaya perspektif peserta dalam memahami realitas sosial yang kompleks.
Melalui pertemuan ini, SLI XVII kembali menegaskan perannya sebagai wadah dialog lintas iman yang tidak hanya membahas isu keagamaan, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang lebih luas. Dengan mengangkat tema kekerasan berbasis gender dan kesehatan mental, kegiatan ini mengajak peserta untuk lebih peka terhadap realitas ketidakadilan, sekaligus menumbuhkan empati dan solidaritas dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan setara (by Qoyyum).