KESEHATAN MENTAL DALAM BERKELUARGA, BERAGAMA, DAN, BERMASYARAKAT (IMPLEMENTASI V KERJASAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026)
Foto Bersama
Yogyakarta, Sabtu, 14 Maret 2026, Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kerja sama UIN Suka-UKDW-USD dan Interfidei mengimplementasikan kerja sama ke-5 di tahun 2026 ini dengan tema “Kesehatan Mental, Tantangan Hidup Berkeluarga, Beragama, dan Bermasyarakat di Era Teknologi Modern”. Implementasi ke-5 kerja sama Program Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII terlaksana pada pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Biara Nazareth, Jalan Kaliurang Km. 7,5 Yogyakarta.
Pertemuan kali ini dibuka dengan doa pembuka dan pengantar dari Romo Y.B Prasetyantha yang kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi yang disampaikan oleh Romo Ignatius Triatmoko, MSF akrab disapa Romo Tri. Dalam sesi tersebut, Romo Tri mengajak para peserta untuk menyelami sejarah berdirinya Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), kongregasi yang menaungi Biara Nazareth sejak pertama kali didirikan sebagai Skolastikat MSF Santo Agustinus pada 8 September 1957 di Yogyakarta. Pemaparan berlangsung secara interaktif dan diselingi dengan sesi tanya jawab yang antusias dari para peserta, beberapa pertanyaan juga membahas persoalan bagaimana menjaga kesehatan mental para frater yang ada di biara Nazareth, mengingat waktu yang harus dijalani untuk berkembang dalam pelayanan dan tanggung jawab rohani tidaklah sebentar. Hal ini mencerminkan keingintahuan peserta SLI dalam mengenal lebih dalam spiritualitas, kesehatan mental dan latar belakang kongregasi yang menjadi tuan rumah pertemuan ini.
Biara Nazareth sendiri memiliki sejarah panjang dalam perjalanan misi MSF di Indonesia. Nama Nazareth dipilih karena mencerminkan tempat hidup Keluarga Kudus, yang menjadi teladan utama spiritualitas kongregasi ini, sebagaimana yang diwariskan oleh Pater Pendiri, Jean Berthier. Bangunan Biara Nazareth di Jalan Kaliurang Km. 7,5 telah berdiri sejak 15 Desember 1967, ketika keluarga besar Skolastikat MSF berpindah dari lokasi sebelumnya di Jalan Supadi 17 Yogyakarta. Seperti biasanya, memasuki sesi refleksi, para peserta yang sebelumnya telah dibagi ke dalam beberapa kelompok menampilkan yel-yel kelompok hasil renungan mereka masing-masing pada pertemuan sebelumnya yang bertema “Agama dan Kesehatan Mental di Era Digital (Tantangan dan Pendekatan Holistik di Perguruan Tinggi”. Dalam sesi refleksi pertemuan kali ini empat kelompok masing-masing menampilkan pantun dan puisi, karya yang lahir dari perpaduan latar belakang agama dan budaya yang beragam. Setelah itu dilanjutkan dengan tanggapan atas penyampaian refleksi peserta .
Ibu Annisa, salah satu yang memberikan tanggapan menyentuh atas penampilan para peserta. Ia mengatakan bahwa sumber utama luka batin manusia adalah prasangka, dan bahwa pertemuan serta dialog adalah jalan untuk menyembuhkannya. Ia mengajak para peserta agar tidak menjadikan pemahaman agama sebagai teropong dalam menilai mereka yang berbeda, melainkan menggunakannya sebagai cermin untuk melihat diri sendiri. "Luka tidak mengenal agama, dan air mata masih sama asinnya," tuturnya, menegaskan bahwa penderitaan batin adalah pengalaman universal yang melampaui batas-batas keyakinan.
Tanggapan yang tak kalah mengharukan datang dari Pendeta Novita. Ia menyampaikan rasa harunya atas terselenggaranya kegiatan SLI ini, yang baginya menjawab pertanyaan yang selama ini mengendap dalam dirinya, baik selama aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) maupun dalam perjalanannya sebagai seorang pendeta. Pertanyaan itu adalah: apakah cahaya kebersamaan masih tetap ada di negeri ini? Melalui kegiatan SLI XVII, ia menemukan jawabannya. "Cahaya itu tidak padam, dan masih banyak orang yang berjuang untuk kebersamaan," ungkapnya dengan penuh haru.
Pertemuan kelima SLI XVII ditutup dengan sesi foto bersama yang hangat, dilanjutkan dengan keliling lingkungan Biara Nazareth. Momen penutup ini menjadi simbol kebersamaan yang telah terjalin sepanjang hari, mempererat hubungan antar peserta yang datang dari latar belakang iman yang berbeda-beda. Melalui serangkaian pertemuan yang telah terselenggara, SLI XVII terus membuktikan dirinya sebagai ruang yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai kampus dan keyakinan untuk saling belajar, berdialog, dan menumbuhkan pemahaman lintas iman. Dengan menjadikan kesehatan mental sebagai tema besar, program ini sekaligus mengingatkan bahwa kepedulian terhadap sesama, termasuk dalam hal kesejahteraan batin, adalah nilai universal yang dapat menjadi jembatan di antara perbedaan (by Alfin).