KULIAH TAMU ALUMNI SAA 1995, SENATOR 7 KALI BERTURUT-TURUT MUHAMMAD YAZID, S.AG. (1997-2029): DAMPAK KEBERAGAMAAN TERHADAP ANTI POLITIK UANG

Prodi S1 Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali mengadakan Kuliah Tamu (Guest Lecture) bertemakan The Price of Representation. Dimoderatori oleh Prof Syafa'atun Airzanah, Guru Besar Prodi S1 SAA, kuliah tamu menghadirkan Narasumber alumni Prodi Perbandingan Agama (nama Studi Agama-Agama sebelumya), Muhammad Yazid, S.Ag. Kuliah tamu dilaksanakan pada 6 April 2026, di Ruang Smart Room, FUPI lantai 2. Menurut Kaprodi S1 SAA, Roni Ismail, marasumber kuliah tamu kali sangat spesial. Bukan karena Muhammad Yazid, S.Ag. alumni Prodi SAA, tetapi karena Muhammad Yazid adalah anggota DPRD Sleman dan DIY 7 kali berturut-turut sejak pertama kali berkarir di dunia politik dari 1997-2029 yang akan datang.

Muhammad Yazid, Politikus Partai Persatuan Pembangungan (PPP), merupakan alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, kemudian melanjutkan Studi Sarjana tahun 1988 di Jurusan Perbandingan Agama (sekarang Prodi Studi Agama-Agama), Fakultas Ushuluddin, dan lulus pada tahun 1997. Selama kuliah di Fakultas Ushuluddin, bersama rekan-rekan, Muhammad Yazid mendirikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Komisariat Fakultas Ushuluddin. Setelah lulus kuliah sarjana, beliau langsung terjun ke dunia politik di bawah naungan Partai Persatuan Pembangunan semasa rezim represif Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Karirnya melejit dengan menjadi anggota DPRD di Kabupaten Sleman dan Propinsi D.I Yogyakarta selama 7 kali berturut-turut dan sekarang menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembanguan (PPP) Propinsi D.I Yogyakarta. Semua prestasi ini patut diteladani karena diperoleh dengan tanpa praktik politik uang.

Menurut Yazid menyatakan diri anti politik uang karena menurutnya berpolitik harus menggunakan etika. Prinsip Yazid khairunnas anfa’uhum li n-nas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain. Oleh karena itu, bagi Yazid, bagaimana mungkin seorang senator akan bermanfaat atau melayani konstituennya jika dalam memperoleh jabatannya dengan menggunakan politik uang yang mahal. Senator yang menggunakan politik uang pasti akan sesegera mungkin berusaha keras untuk mengembalikan modal tinggi politik (uang). Yazid menjelaskan biaya politik untuk menjadi senator DPRD saja bisa berkisar 2-3 Milyar, jika ditambah politik uang, ongkos tersebut bisa mencapai 5 Milyar.

Prinsip kedua Yazid dalam berpolitik adalah nilai ar-rasyi wa l-murtasyi fin nar. Prinsip ini juga yang menginspirasi Yazid untuk menjauhi politik uang. Sedangkan prisnip kedua Yazid dalam berpolitik adalah nilai amar ma’ruf nahi munkar bahwa amanah politik digunakan untuk menyeru kebajikan dan mencegah segala bentuk kejahatan. Hal itu dibuktikan Yazid di Komisi D DPRD DIY yang memperjuangkan nasib kaum difabel, persoalan BPJS, dan nasib guru-guru P3K. Yazid juga berperan dalam menutup beberapa tempat maksiat di sekitaran daerah Yogyakarta ini. Nampak nyata dampak keberagamaan atau religiusitas tinggi Yazid terhadap perilaku berpolitik Yazid dalam meraih kursi senator dan mempertanggung jawabkan amanah yang diberitakan untuk memperjuangkan masyarakat yang memilihnya.

Kepada para mahasiswa Prodi S1 SAA yang hadir pada kuliah tamu ini, Muhammad Yazid berpesan agar mahasiswa bersikap, pertama, totalitas. Kedua, percaya diri. Ketiga, peka terhadap persoalan sekitar. Keempat, optimis karena lulusan UIN Sunan Kalijaga terbutki mengisi semua lini kehidupan bermasyarakat di Indonesia, dan sukses menjalankannya. Sesi diakhiri dengan tanya jawab di mana beberapa mahasiswa menanyakan teknis berkiprah di masyarakat baik lewat jalur politik maupun non-politik.

Pada kesempatan tanya jawab ini Kaprodi Studi Agama-Agama (SAA), Roni Ismail, menyampaikan di forum tersebut, pertama, aparesiasi kepada Prof Syafa’atun Almirzanah yang selalu berinovasi dalam pembelajaran terkhusus dengan menghadirkan Dosen Tamu yang berasal dari alumni SAA Muhammad Yazid, S.Ag. Kedua, mendorong mahasiswa untuk menulis sosok Yazid ini dalam penelian skripsi dari perspektif studi agama-agama seperti secara psikologi agama, atau menurut pendekatan lain (by Mr. Ron’s).