IMPLEMENTASI IV KERJASAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026: AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL DI ERA DIGITAL (TANTANGAN DAN PENDEKATAN HOLISTIK DI PERGURUAN TINGGI)

YOGYAKARTA– Sabtu, 14 Maret 2026, Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kerja sama UIN Suka-UKDW-USD dan Interfidei mengimplementasikan kerja sama ke-4 di tahun 2026 ini dengan tema “Agama dan Kesehatan Mental di Era Digital: Tantangan dan Pendekatan Holistik di Perguruan Tinggi”, pukul 08.00–12.00 WIB, bertempat di ruang Smart Room, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Masalah kesehatan mental yang kian marak menjangkiti generasi muda, khususnya mahasiswa di era digital, menjadi sorotan utama dalam pertemuan ke-4 Sekolah Lintas Iman (SLI) ke-14. Acara yang mengusung tema "Agama dan Kesehatan Mental di Era Digital: Tantangan dan Pendekatan Holistik di Perguruan Tinggi Berbasis Agama" ini diselenggarakan di Smart Room lantai II, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (14/3), mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB yang diikuti oleh seluruh peserta SLI terutama Mahasiswa UIN semester 6 Program Studi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Acara ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Robby H. Abror, M.Hum dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Dr. Ahmad Salehudin, MA.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang agama berbeda: Pdt. Nani Minarni, S.Si., M.Hum. (Kristen), Romo Y.B. Prasetyantha (Katolik), dan Roni Ismail (Islam). Ketiganya sepakat bahwa institusi pendidikan berbasis agama harus bertransformasi dalam memberikan dukungan mental bagi mahasiswa yang kini kerap terjebak dalam tekanan dunia digital.

Pdt. Nani Minarni memaparkan pengalaman Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dalam menerapkan pendekatanBio-Psycho-Social-Spiritual(BPSS). Menurutnya, pascapandemi COVID-19, pendekatan pastoral tradisional yang hanya mengandalkan doa tidak lagi mencukupi untuk menangani kasus kompleks seperti bipolar atau percobaan bunuh diri.

"Manusia adalah pribadi utuh yang terdiri dari fisik, jiwa, dan roh. Kami mengembangkan layanan yang mengintegrasikan peran pendeta, psikolog, hingga psikiater untuk membangunculture of caredi kampus," ujar Pdt. Nani.

Senada dengan hal tersebut, Romo Y.B. Prasetyantha menyoroti fenomenaHomo Digitalis. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 35% Generasi Z menghabiskan lebih dari dua jam sehari di media sosial, yang sering kali memicu rasa tidak aman dan depresi. Melalui konsepCybertheology, Romo Prasetyantha menekankan bahwa internet harus dimaknai sebagai ruang baru untuk mencari makna hidup, namun tetap memerlukan refleksi kritis agar relasi yang terbangun tetap otentik dan tidak manipulatif.

Dari perspektif Islam, Roni Ismail menjelaskan pentingnya konsepQalbun Salimatau hati yang bersih. Ia memaparkan bahwa kesehatan mental dalam Islam dicapai melalui tahapantakhalli(pembersihan sifat negatif),tahalli(penanaman sifat positif), dantajalli(merasakan kehadiran Tuhan). Di UIN Sunan Kalijaga, upaya ini diwujudkan melalui workshop kecerdasan emosi dan spiritual bagi mahasiswa baru.

Pertemuan ini menyimpulkan bahwa agama memiliki peran krusial sebagai sumber kekuatan dan makna di tengah tantangan zaman. Perguruan tinggi berbasis agama memikul tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental melalui layanan konseling profesional, komunitas yang inklusif, dan edukasi penggunaan teknologi yang bijak (by Ayu).