IMPLEMENTASI III KERJASAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026: KESEHATAN MENTAL MENURUT AHMADIYAH JAI YOGYAKARTA
Foto Bersama Tim Fasilitator dan Peserta di Masjid Ahmadiyah Fadhli Umar
Yogyakarta, Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kerja sama UIN Suka-UKDW-USD dan Interfidei mengimplementasikan kerjasama ke-3 di tahun 2026 ini dengan mengadakan kegiatan dialog dan pembelajaran mengenai pandangan Ahmadiyah tentang kesehatan mental di Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yogyakarta pada Sabtu, 7 Maret 2026, pukul 09.00–12.00 WIB.
Kegiatan ini dihadiri oleh jemaat Ahmadiyah serta anggota Sekolah Lintas Iman, terutama 8 mahasiswa S1 dari Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari JAI, yaitu Bapak Dildaar Ahmad Dartono, Bapak Basyirudin Suhartono, dan Bapak Irfan Ardiatama, memaparkan mengenai sejarah, perkembangan, serta ajaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Mereka menjelaskan bahwa Ahmadiyah merupakan gerakan pembaruan Islam yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadian, India, pada akhir abad ke-19 dan kemudian berkembang ke berbagai negara, termasuk Indonesia pada awal abad ke-20 melalui jalur dakwah, pendidikan, dan literatur keagamaan.
Dalam pemaparannya, narasumber juga menjelaskan perkembangan Ahmadiyah di Indonesia yang kemudian melahirkan dua organisasi utama, yaitu Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), yang memiliki latar belakang sejarah dan pendekatan teologis yang berbeda. Di Yogyakarta sendiri, jemaat Ahmadiyah berupaya membangun kehidupan beragama yang harmonis melalui kegiatan sosial, dialog lintas iman, serta berbagai aktivitas kemasyarakatan. Dalam konteks kesehatan mental, Ahmadiyah menekankan pentingnya sikap batin yang damai dan penghormatan terhadap perbedaan. Prinsip “La ikraha fid din” dipahami sebagai dasar untuk tidak memaksakan keyakinan dan tidak membenci orang lain. Menurut para narasumber, seseorang yang mampu menghormati perbedaan dan hidup berdampingan secara damai menunjukkan kondisi mental yang sehat, sedangkan sikap membenci atau menyerang sesama karena perbedaan mencerminkan kondisi mental yang tidak sehat.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan terkait relevansi ajaran Ahmadiyah dengan perkembangan zaman, pandangan terhadap krisis kemiskinan yang berdampak pada kesehatan mental, kerusakan lingkungan, serta hubungan Ahmadiyah dengan masyarakat luas. Para narasumber menjelaskan bahwa Ahmadiyah berupaya memahami ajaran agama secara kontekstual dengan tetap menjaga prinsip keimanan, serta menekankan pentingnya solidaritas sosial, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah untuk menjaga alam.
Kegiatan dilanjutkan dengan refleksi dari anggota Sekolah Lintas Iman XVII yang merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya. Dalam sesi ini, para peserta mengekspresikan refleksi mereka melalui berbagai bentuk kreativitas seperti yel-yel, pembacaan puisi, pameran lukisan, serta pertunjukan drama yang menggambarkan pesan-pesan toleransi, kebersamaan, kesehatan mental dan pentingnya dialog lintas iman.
Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Melalui dialog dan refleksi yang dilakukan, para peserta diharapkan dapat semakin memahami keberagaman perspektif keagamaan serta memperkuat sikap saling menghargai di tengah masyarakat yang majemuk dan pentingnya menjaga kesehatan mental. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai penutup rangkaian kegiatan Sekolah Lintas Iman XVII (by Masrur & RIP).