IMPLEMENTASI II KERJASAMA SEKOLAH LINTAS IMAN 2026: KESEHATAN MENTAL BAGI CALON PEMIMPIN AGAMA

Yogyakarta, Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII kerja sama UIN Suka-UKDW-USD dan Interfidei mengimplementasikan kerjasama ke-2 di tahun 2026 ini dengan menyelenggarakan kegiatan Studium Generale pada Sabtu, 28 Februari 2026 pukul 09.00-12.00 WIB, di Fakultas Theologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), secara offline dan online (Zoom meeting). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Dr. Harun Hadiwiyono dan diikuti oleh Delapan Mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam angkatan semester enam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yakni Masrur, Dita Aulia Putri, Linuwih Prihartanto, Ayu Purnamasari, Alfin Innayaturrofiqoh, Ibnu Qayyum Al-Furqaan, Natasya Anggita Putri Zahrani, dan M. Humaidi, dan peserta umum lainnya. Kegiatan ini mengangkat tema mengenai kesehatan mental, khususnya dalam kaitannya dengan peran calon pemimpin agama.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran para peserta, yang sebagian besar merupakan calon pemimpin agama dari berbagai latar belakang kepercayaan, agar mampu memahami berbagai persoalan kesehatan mental yang saat ini banyak terjadi di tengah keluarga dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam kehidupan sosial saat ini, serta memahami langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah, menghadapi, dan membantu mengatasi persoalan kesehatan mental di lingkungan mereka.

Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan suasana kelas yang penuh antusiasme. Para peserta memenuhi Ruang Dr. Harun Hadiwiyono dan ada juga yang mengikuti secara daring melalui zoom meeting, dengan membawa semangat belajar yang tinggi. Beberapa peserta terlihat mencatat poin-poin penting dari materi yang disampaikan, sementara yang lain aktif menyimak dengan penuh perhatian. Suasana diskusi terasa hangat dan terbuka, sehingga para peserta merasa nyaman untuk bertanya dan berbagi pandangan.

Dalam kegiatan ini hadir dua narasumber dari bidang psikologi yang memberikan perspektif akademik sekaligus pengalaman praktis mengenai kesehatan mental. Narasumber pertama adalah Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Beliau dikenal sebagai pengajar dalam bidang Transpersonal Psychology, serta aktif sebagai dosen dan peneliti yang pernah terlibat dalam berbagai kolaborasi riset internasional terkait kesehatan mental.

Dalam pemaparannya, Prof. Kwartarini menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia yang sering kali tidak disadari keberadaannya hingga seseorang mengalami gangguan psikologis. Ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, antara lain faktor genetik, pola pengasuhan dalam keluarga, serta lingkungan sosial tempat seseorang bertumbuh. Menurutnya, ketiga faktor tersebut tidak berdiri sendiri dan tidak selalu saling menentukan secara mutlak, tetapi saling mempengaruhi satu sama lain.

Dalam pendekatan Psikologi Transpersonal, ia juga menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam kesehatan mental. Spiritualitas, menurutnya, dapat menjadi sumber kekuatan batin yang membantu seseorang memahami penderitaan, menemukan makna hidup, serta membangun ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Narasumber kedua, Bapak. Cornelius Siswa Widyatmoko., M.Psi, yang merupakan psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, melanjutkan pembahasan dengan menyoroti realitas kesehatan mental yang banyak dialami oleh anak muda dan mahasiswa saat ini. Berdasarkan pengalamannya sebagai psikolog klinis yang sering mendampingi anak muda, ia menjelaskan bahwa banyak mahasiswa mengalami berbagai tekanan psikologis seperti kecemasan, stres akademik, rasa kesepian, hingga depresi. Kondisi tersebut sering kali diperburuk oleh kurangnya ruang aman untuk berbicara mengenai perasaan mereka. Bapak Cornelius menekankan bahwa salah satu kebutuhan terbesar seseorang yang sedang mengalami tekanan mental adalah didengar tanpa dihakimi. Oleh karena itu, kehadiran pemimpin agama yang mampu mendengarkan dengan empati menjadi sangat penting dalam membantu seseorang melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.

Selama sesi diskusi, suasana kelas menjadi semakin hidup. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait pengalaman nyata yang mereka temui di lingkungan masyarakat, seperti bagaimana menyikapi stigma terhadap gangguan mental, serta bagaimana peran alam dan tumbuhan dalam memengaruhi kesehatan mental manusia. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa isu kesehatan mental merupakan persoalan yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Para peserta terlihat sangat antusias untuk memahami peran mereka sebagai calon pemimpin agama dalam merespons persoalan tersebut secara bijaksana dan penuh empati.

Melalui kegiatan Studium Generale yang diselenggarakan oleh Program SLI XVII ini, para peserta diajak untuk menyadari bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan komunitas keagamaan. Sebagai calon pemimpin agama, mereka diharapkan tidak hanya mampu menyampaikan ajaran spiritual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap pergumulan batin yang dialami oleh banyak orang di sekitar mereka. Pemimpin agama di masa depan diharapkan dapat menjadi pribadi yang mampu menghadirkan empati, pengertian, serta dukungan bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan dalam hidup.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pelayanan keagamaan tidak hanya berbicara tentang aspek teologis atau ritual semata, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan kepedulian yang nyata terhadap kesejahteraan manusia secara menyeluruh, termasuk dalam hal kesehatan mental. Dengan kesadaran tersebut, diharapkan para peserta mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya bijaksana secara spiritual, tetapi juga peka terhadap realitas kehidupan manusia di tengah masyarakat (by Masrur & RIP).